Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) ditutup menguat 0,4 persen ke level Rp 6.125 pada perdagangan Senin (18/5/2026) setelah investor asing melakukan aksi beli bersih terbesar di pasar reguler Bursa Efek Indonesia.
Aksi borong saham oleh investor asing ini terjadi seiring dengan rilis pembaruan kinerja keuangan emiten berkode BBCA tersebut, sebagaimana dilansir dari Investor Daily.
Perseroan mencatatkan pertumbuhan laba bersih (bank only) sebesar 3 persen secara tahunan (yoy) hingga April 2026 (4M26) dengan nilai mencapai Rp 20,8 triliun, di mana perolehan khusus pada bulan April 2026 sebesar Rp 4,8 triliun atau naik 6 persen yoy.
Pihak Stockbit Sekuritas memberikan analisis resmi terkait pencapaian kinerja keuangan komulatif empat bulan pertama yang dibukukan oleh bank swasta terbesar di Indonesia tersebut.
"Perolehan laba bersih tersebut sejalan dengan ekspektasi, karena setara 34% dari estimasi konsensus untuk konsolidasi tahun 2026. Sebagai pembanding, pada 4M25 mencapai 35% dari realisasi konsolidasi 2025," tulis Stockbit Sekuritas dalam catatannya, yang dikutip pada Selasa (19/5/2026).
Pencapaian laba BBCA didukung kenaikan pendapatan non-bunga sebesar 8 persen yoy, sedangkan pendapatan bunga bersih tercatat flat dengan penurunan margin bunga bersih menjadi 5,2 persen akibat penurunan yield aset.
"Kredit BBCA tumbuh 5% yoy per April 2026, di bawah guidance manajemen untuk konsolidasi 2026 di kisaran 8-10% yoy," ungkap Stockbit.
Di sisi lain, penurunan beban provisi sebesar 16 persen yoy turut menopang kinerja perbankan, sehingga biaya kredit (bank only) turun menjadi 0,3 persen selama periode empat bulan pertama tahun ini.
Selain analisis dari Stockbit, pergerakan saham emiten perbankan ini juga memicu penyesuaian proyeksi dari sekuritas lain terkait target nilai investasinya.
MNC Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BBCA, meskipun mereka memutuskan untuk menurunkan target harga saham perbankan tersebut menjadi Rp 8.700 dari proyeksi sebelumnya sebesar Rp 10.500.
Penurunan target harga tersebut didasarkan atas revisi tingkat imbal hasil yang disyaratkan investor menjadi 7,5 persen, dengan potensi risiko utama berupa pertumbuhan kredit yang melambat serta pemburukan kondisi ekonomi makro.