Saham BBCA Melemah ke Rp 5.950 di Tengah Perlambatan Kredit

Saham BBCA Melemah ke Rp 5.950 di Tengah Perlambatan Kredit
Foto: Ilustrasi Saham BBCA Melemah ke Rp 5.950 di Tengah Perlambatan Kredit.

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) ditutup melemah sebesar 0,42 persen ke level Rp 5.950 pada perdagangan Kamis (21/5/2026). Dilansir dari Investor Daily, aktivitas pasar modal mencatatkan aksi jual bersih atau net sell oleh investor asing yang mencapai Rp 110,20 miliar.

Volume perdagangan saham BBCA menyentuh angka 210,98 juta lembar dengan frekuensi transaksi sebanyak 32.012 kali. Secara keseluruhan, nilai transaksi yang tercipta dari pergerakan saham bank swasta terbesar ini mencapai Rp 1,26 triliun.

MNC Sekuritas memaparkan bahwa penurunan harga saham BBCA ini berbarengan dengan munculnya tekanan jual di pasar. Selain itu, posisi pergerakan harga komoditas finansial ini terpantau belum sanggup bertahan di atas garis MA20.

Penurunan lanjutan diperkirakan masih dapat terjadi hingga menyentuh rentang harga 5.625 sampai 5.775. Atas dasar analisis teknikal tersebut, pihak broker merekomendasikan strategi buy on weakness bagi para pelaku pasar pada area harga dimaksud.

Target harga yang ditetapkan oleh MNC Sekuritas berada pada level 6.425 dan 6.775.

"Stoploss di bawah 5.575," ungkap MNC Sekuritas dalam analisisnya, Jumat (22/5/2026).

Dari sisi operasional perbankan, emiten berkode saham BBCA ini telah memublikasikan laporan keuangan individual terbaru hingga periode April 2026. Data internal menunjukkan perusahaan mengambil langkah kehati-hatian dengan menahan laju ekspansi pembiayaan.

Penyaluran pembiayaan dari BCA tercatat tumbuh 4,54 persen secara year on year (yoy) atau merosot ke angka 0,30 persen secara month on month (mom). Secara akumulatif, nilai nominal kredit yang disalurkan mencapai Rp 965,01 triliun.

Capaian tersebut merefleksikan adanya tren penurunan kecepatan penyaluran pembiayaan selama empat bulan berturut-turut pada awal tahun ini. Kondisi ini membuat realisasi pertumbuhan semakin menjauh dari target tahunan manajemen yang dipatok 8-10 persen yoy.

Kebijakan pengetatan ini sejatinya telah diterapkan sejak tahun 2025 lalu. Pada Januari tahun lalu, pertumbuhan pembiayaan sempat melonjak tinggi di angka 15,07 persen yoy sebelum akhirnya merosot dan ditutup pada level 7,49 persen yoy di akhir tahun.

Manajemen korporasi memilih mengalihkan penempatan dana ke instrumen berisiko rendah seperti surat berharga dan penempatan pada perbankan lain. Alokasi dana untuk investasi surat berharga melonjak 17,55 persen yoy menjadi Rp 425,41 triliun.

Dana yang ditempatkan pada lembaga perbankan lain juga mengalami kenaikan signifikan sebesar 40,40 persen yoy hingga menyentuh Rp 24,61 triliun. Sikap manajemen yang sangat konservatif ini berdampak langsung pada efisiensi struktur biaya operasional.

Beban pencadangan atau provisi berhasil ditekan hingga minus 16,22 persen yoy menjadi hanya Rp 1,06 triliun dalam jangka waktu empat bulan. Hal ini mendorong rasio cost of credit (CoC) melandai ke level 0,33 persen untuk periode empat bulan pertama.

Keberhasilan dalam mengelola dan memitigasi risiko pembiayaan berimbas positif pada perolehan keuntungan bersih perusahaan. Laba bersih individual milik BCA tetap mencatatkan pertumbuhan sebesar 3,00 persen yoy dengan nilai Rp 20,81 triliun.

Namun, perlambatan kredit berimbas pada pendapatan bunga yang hanya tumbuh terbatas 0,63 persen yoy menjadi Rp 30,53 triliun. Di sisi lain, beban bunga naik hingga 6,63 persen yoy atau setara dengan nilai Rp 4,35 triliun.

Kondisi tersebut menyebabkan pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) mengalami penurunan tipis sebesar 0,30 persen yoy menjadi Rp 26,18 triliun. Margin bunga bersih atau NIM juga menyusut ke angka 5,24 persen.

Penurunan laba dari sektor intermediasi berhasil diimbangi oleh pendapatan berbasis komisi atau fee based income yang tumbuh tangguh sebesar 9,51 persen yoy. Nilai sektor penopang ini mencapai Rp 6,72 triliun.

Secara umum, indikator profitabilitas perusahaan masih berada dalam jalur target manajemen. Tingkat pengembalian aset (ROA) berada di posisi 4,00 persen dan tingkat pengembalian ekuitas (ROE) bertengger di level 23,43 persen.

BCA juga terpantau aktif menghimpun dana masyarakat, khususnya untuk jenis dana murah. Total dana pihak ketiga (DPK) yang berhasil dikumpulkan mengalami kenaikan sebesar 8,56 persen yoy menjadi Rp 1.246,05 triliun.

Komponen DPK tersebut terdiri dari dana giro sebesar Rp 432,68 triliun, dana tabungan sebesar Rp 626,14 triliun, dan simpanan deposito senilai Rp 187,22 triliun. Komposisi ini menjaga rasio dana murah (CASA) berada di angka 84,97 persen.

Kondisi likuiditas perusahaan yang tecermin dari loan to deposit ratio (LDR) berada pada level memadai yaitu sebesar 77,45 persen per April 2026.

Artikel terkait

Rekomendasi