Saham PT Astra International Tbk (ASII) mengalami penurunan sebesar 8,48% ke level Rp 5.125 pada perdagangan Selasa (26/5/2026). Penurunan emiten otomotif tersebut dipicu oleh tekanan aksi jual yang dilakukan oleh investor asing.
Dikutip dari Investor Daily, perdagangan saham Astra mencatatkan volume sebanyak 82,65 juta saham dengan frekuensi 24.836 kali. Total nilai transaksi mencapai Rp 434,82 miliar, di mana investor asing membukukan net sell sebesar Rp 28,14 miliar.
Koreksi ini memperpanjang tren negatif Astra dalam sebulan terakhir yang merosot 18,97% dengan total net sell asing Rp 490,91 miliar. Dari sisi valuasi, saham ASII saat ini diperdagangkan dengan rasio price to book value (PBV) 0,89 kali dan price earning ratio (PER) sebesar 6,55 kali (TTM).
Meskipun melemah, Mandiri Sekuritas merekomendasikan buy untuk saham Astra International dengan target harga Rp 7.000. Penurunan harga ini dipandang terjadi di tengah momentum refleksi menuju tujuh dekade Astra untuk mendorong pertumbuhan jangka panjang.
Astra mengumumkan hasil tinjauan strategis menyeluruh pada Senin (25/5/2026) untuk mereposisi strategi bisnis ke depan. Perusahaan akan berfokus pada portofolio bisnis utama yang memiliki rekam jejak kinerja kuat.
Langkah strategis ini diambil guna memperkuat disiplin alokasi modal serta menjaga keseimbangan pertumbuhan laba jangka pendek, menengah, dan panjang. Evaluasi dilakukan dari berbagai aspek, termasuk tantangan pasar, posisi strategis, hingga potensi imbal hasil investasi.
Presiden Direktur Astra Rudy menjelaskan, secara historis, Astra memiliki bisnis yang terdiversifikasi yang menjadi nilai tambah bagi perusahaan hingga hari ini. Seiring dengan perkembangan dinamika pasar, Astra mereposisi strateginya dengan memberikan fokus pada portofolio bisnis utama yang selama ini memiliki kinerja yang kuat, yaitu Otomotif, Jasa Keuangan, dan Alat Berat & Solusi Pertambangan, menjalankan strategi pengembangan portofolio bisnis yang terarah untuk bisnis lainnya, serta memperkuat disiplin dalam mengalokasikan modal.
"Secara keseluruhan, strategi ini diharapkan dapat memperkuat kualitas portofolio bisnis dan meningkatkan efisiensi modal yang menghasilkan pertumbuhan laba serta nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan," ujar Rudy dalam keterangan resmi, Senin (25/5/2026).
Optimalisasi Tiga Sektor Bisnis Inti
Astra ke depan akan memusatkan operasional pada tiga lini bisnis utama yang selama ini menyumbang hingga 90% terhadap laba perusahaan. Sektor otomotif tidak hanya fokus pada penjualan unit baru, melainkan mengoptimalkan seluruh ekosistem layanan purna jual, suku cadang, hingga kendaraan bekas.
Pada lini Jasa Keuangan, fokus diarahkan untuk memaksimalkan potensi ekosistem lewat beragam produk di berbagai segmen pelanggan. Sementara itu, sektor Alat Berat & Solusi Pertambangan akan memperkuat rantai pasok dan mengembangkan sumber pertumbuhan baru.
Untuk portofolio di luar tiga bisnis utama, Astra menerapkan pengembangan terarah yang selaras dengan kapabilitas grup serta membangun kemitraan strategis. Dana sebesar Rp 8 triliun juga disiapkan untuk program pembelian kembali (share buyback) saham selama 12 bulan ke depan.
Pertumbuhan Finansial dan Dampak Sosial Astra
Dalam satu dekade terakhir (2015-2025), laba bersih Astra tercatat tumbuh 126% dari Rp 15 triliun menjadi Rp 33 triliun. Pembagian dividen kepada pemegang saham juga melonjak hingga 245% dari Rp 113 per saham menjadi Rp 390 per saham pada tahun 2025.
Pengembangan sumber daya manusia juga menjadi fokus perusahaan melalui penciptaan lingkungan kerja yang positif bagi lebih dari 190 ribu karyawan. Astra meraih penghargaan Best Companies to Work for in Asia dari HR Asia (2018-2025) dan peringkat pertama kepuasan karyawan di Asia Pasifik versi TIME tahun 2026.
Di bidang kontribusi sosial, Astra fokus pada pemberdayaan masyarakat pedesaan melalui program Desa Sejahtera Astra yang mencakup sektor kesehatan, pendidikan, kewirausahaan, dan lingkungan. Saat ini terdapat lebih dari 1.500 desa binaan di 35 provinsi yang menjangkau lebih dari 3 juta penerima manfaat.