Saham PT Aman Agrindo Tbk (GULA) mencuri perhatian pelaku pasar modal setelah mencatat kenaikan volume transaksi yang signifikan pada perdagangan Selasa (26/5/2026). Perusahaan produsen dan perdagangan komoditi gula ini mengalami lonjakan harga saham sebesar 93,8 persen di sepanjang tahun 2026.
Dilansir dari Investor Daily, harga saham emiten ini ditutup pada level Rp 500 per lembar pada perdagangan terakhir. Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan agresif jika dibandingkan dengan posisi pada akhir Desember tahun 2025 lalu yang masih berada di kisaran Rp 258 per lembar.
Kenaikan harga yang masif ini terjadi di tengah langkah perseroan menyelaraskan ekspansi bisnis dengan agenda ketahanan pangan pemerintah. Manajemen GULA memprioritaskan program Swasembada Gula Nasional yang dicanangkan pemerintahan Prabowo demi menekan ketergantungan terhadap komoditas impor.
Berdasarkan data Buku Outlook Komoditas Perkebunan Tebu dari Kementerian Pertanian, kebutuhan konsumsi gula nasional diproyeksikan mencapai 8,03 juta ton hingga tahun 2028. Sementara itu, kapasitas produksi dalam negeri diperkirakan hanya mampu menyuplai sekitar 2,70 juta ton, sehingga memicu potensi impor hingga 5,33 juta ton.
GULA berupaya menutup defisit tersebut dengan mengoptimalkan operasional pabrik gula merah yang baru selesai didirikan. Melalui efisiensi rantai pasok dan pertumbuhan organik, pendapatan perseroan tahun ini diproyeksikan mampu menyentuh Rp 336 miliar dengan target laba bersih sebesar Rp 36,9 mliar.
Dari sisi teknikal, indikator Moving Average (MA) memperlihatkan bahwa momentum beli jangka pendek, menengah, hingga panjang untuk saham GULA masih terkendali oleh pasar. Posisi harga saat ini berada cukup jauh di atas garis MA20 sebesar Rp 403, MA50 di level Rp 354, dan MA200 pada angka Rp 347.
Peningkatan volume transaksi harian turut mengonfirmasi penguatan tersebut setelah berhasil menembus 109 juta lembar saham pada Selasa (26/5/2026). Jumlah ini jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata volume perdagangan 20 hari terakhir yang berada di kisaran 39 juta lembar per hari.
Investor tetap diminta waspada mengingat indikator Relative Strength Index (RSI) telah berada di level 80 yang menandakan saham sudah memasuki area jenuh beli (overbought). Jika gagal melewati batas atas berikutnya di level Rp 550 pada perdagangan Selasa (2/6/2026), saham GULA berpotensi mengalami koreksi menuju area support di kisaran Rp 422, Rp 358, hingga Rp 298.