Rupiah Tembus Rp17.800 per Dolar AS, Ekonom: Instrumen Moneter saja tak Cukup
NILAI tukar rupiah yang terus tertekan hingga menembus level Rp17.800 per dolar AS menjadi perhatian serius para ahli. Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, menegaskan bahwa langkah agresif melalui kebijakan moneter tidak akan mampu membendung pelemahan rupiah sendirian.
Mengapa Kebijakan Moneter Belum Efektif?
Meskipun Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 50 basis poin dan meningkatkan imbal hasil (yield) Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), rupiah tetap melemah. Menurut Yusuf, hal ini menunjukkan bahwa daya tarik imbal hasil aset domestik bukan menjadi faktor utama penentu pergerakan kurs saat ini.
"Ketika instrumen moneter yang relatif agresif belum mampu membalik arah pergerakan kurs, pasar sebenarnya sedang menyampaikan bahwa persoalannya tidak bisa diselesaikan oleh suku bunga semata," terangnya.
Akar Masalah: Kombinasi Faktor Global dan Domestik
Menurut analisis CORE, pelemahan rupiah saat ini didorong oleh perpaduan faktor eksternal dan internal:
- Faktor Global: Meningkatnya ketegangan geopolitik dan ketidakpastian global membuat investor beralih ke safe-haven assets atau dolar AS.
- Faktor Domestik: Adanya sentimen negatif terkait kredibilitas fiskal serta keraguan pasar terhadap konsistensi kebijakan ekonomi di dalam negeri.
Dalam kondisi ini, Yusuf menyoroti peran suku bunga.
"Suku bunga tetap penting untuk menahan tekanan pada margin dan menjaga stabilitas jangka pendek, tetapi fungsinya lebih sebagai penahan sementara daripada penyembuh utama," jelasnya.
Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah?
Yusuf menekankan bahwa pasar saat ini menuntut pembagian beban stabilisasi yang lebih luas, tidak hanya mengandalkan Bank Indonesia. Ia menyarankan beberapa langkah strategis:
1. Pemulihan Kredibilitas: Pemerintah perlu memperbaiki komunikasi ekonomi serta memastikan kebijakan yang diambil bersifat teknokratis dan konsisten.
2. Manajemen Devisa: Memperkuat pasokan devisa melalui pengelolaan Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang lebih efektif, serta melibatkan BUMN dan Danantara untuk melakukan konversi valas secara terjadwal saat tekanan pasar meningkat.
3. Reformasi Struktural: Mengatasi kerentanan jangka panjang seperti ketergantungan pada komoditas dan defisit pendapatan primer.
"Pasar saat ini sebenarnya tidak hanya menunggu langkah tambahan dari Bank Indonesia, melainkan ingin melihat bahwa beban stabilisasi dibagi secara lebih luas. Artinya, pasar ingin ada penguatan pengelolaan pasokan devisa domestik dan, yang lebih penting, pemulihan kredibilitas fiskal melalui proses kebijakan yang konsisten dan teknokratis," ucap Yusuf.
Ia juga menambahkan alasan mendasar mengapa investor asing mulai melepaskan aset rupiah.
"Ini penting karena pelepasan aset rupiah oleh investor asing saat ini lebih banyak dipengaruhi persepsi terhadap arah kebijakan dibanding persoalan suku bunga semata."
Sebagai penutup, Yusuf mengingatkan bahwa tanpa perbaikan pada struktur neraca pembayaran yang masih rentan, langkah moneter hanya bersifat menunda tekanan.
"Ketergantungan terhadap komoditas, defisit pendapatan primer yang persisten, dan pasar keuangan yang masih dangkal merupakan sumber kerapuhan yang terus berulang. Selama persoalan struktural ini belum dibenahi, kenaikan suku bunga hanya akan menjadi penundaan sementara atas tekanan yang sama." (Ant/E-4)
- Thomas dan BI: Independensi Bank Sentral di Bawah Bayang-Bayang Bias Laten 26/1/2026 13:26 Independensi Bank Indonesia (BI) berada dalam sorotan menyusul pencalonan Thomas Djiwandono.
- Purbaya Sebut Pertumbuhan Ekonomi 6 Persen pada 2026 tidak Sulit Dicapai 31/12/2025 20:59 MENTERI Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan target pertumbuhan ekonomi 6% pada 2026 tidak terlalu sulit untuk dicapai.
- BRI Market Outlook 2026: Strategi Investor Hadapi Headwinds Global 12/12/2025 20:19 Simak prospek BRI Market Outlook 2026: mengapa ekonomi Indonesia tetap optimis meski dihantam geopolitik global? Cek strategi HNWI!
- Kebijakan Moneter 2026 Prioritaskan Stabilitas dan Pertumbuhan 29/11/2025 02:42 Dengan inflasi yang terkendali, BI akan mencermati ruang penurunan suku bunga acuan atau BI rate untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
- BI Dorong Penurunan Suku Bunga agar Kredit Tumbuh Lebih Cepat 19/11/2025 16:43 Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan membuka ruang penurunan suku bunga acuan atau BI Rate ke depan. Hal ini untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, khususnya kredit.
- BI Sebut Tekanan Rupiah masih Dipengaruhi Ketidakpastian Global 29/5/2026 16:54 BANK Indonesia (BI) menanggapi perkembangan nilai tukar rupiah terkini terutama selama periode libur dan cuti bersama Iduladha 1447 H.
- Rupiah Menguat ke Rp17.814, Sentimen Gencatan Senjata AS-Iran Jadi Pemicu 29/5/2026 12:45 Nilai tukar mata uang rupiah kembali menunjukkan performa positif pada perdagangan Jumat (29/5/2026).
- Nilai Tukar Rupiah Hari Ini 29 Mei 2026 : Menguat ke Rp17.827 per Dolar AS 29/5/2026 10:19 NILAI tukar rupiah hari ini menunjukkan performa positif pada pembukaan perdagangan hari ini, 29 Mei 2026. rupiah dibuka menguat dan berada di level Rp17.827 per dolar Amerika Serikat
- Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa Sebut APBN Aman meski 1 Dolar ke Rupiah Tembus Rp17.800 27/5/2026 11:49 Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tegaskan APBN tetap kokoh meski 1 Dolar ke Rp17.830. Simulasi skenario terburuk telah disiapkan ketika rupiah melemah
- Kurs Rupiah Hari Ini 22 Mei 2026 Melemah ke Rp17.677 per Dolar AS, Simak di Sejumlah Bank 22/5/2026 10:24 Nilai tukar rupiah melemah ke Rp17.677 per dolar AS pada Jumat pagi akibat gejolak Timur Tengah. Simak kurs di BRI, Mandiri, BNI, dan BCA.