Rupiah Melemah ke Level Rp 17.286 Akibat Tensi Geopolitik Global

Rupiah Melemah ke Level Rp 17.286 Akibat Tensi Geopolitik Global
Foto: Ilustrasi Rupiah Melemah ke Level Rp 17.286 Akibat Tensi Geopolitik Global.

Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS tercatat merosot 105 poin atau setara 0,61 persen ke posisi Rp 17.286 pada penutupan perdagangan Kamis (23/4/2026). Penurunan tajam mata uang Garuda di pasar spot ini dipicu oleh memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah serta ketidakpastian kebijakan moneter Amerika Serikat.

Kondisi pelemahan ini diprediksi masih akan berlanjut pada sesi perdagangan berikutnya. Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, memberikan proyeksi bahwa pergerakan rupiah akan tetap berada di zona merah akibat tekanan sentimen global yang masif, sebagaimana dilansir dari Money.

"Bahwa hari ini rupiah ditutup melemah di Rp17.286, 105 poin pelemahannya. Kemudian dalam perdagangan berikutnya besok, ya kemungkinan besar rupiah akan diperdagangkan melemah juga di Rp 17.280 sampai Rp 17.340," ujar Ibrahim Assuaibi, Analis mata uang dan komoditas.

Konflik di Timur Tengah menjadi beban utama setelah delegasi Iran dilaporkan absen dalam perundingan di Pakistan. Situasi semakin tegang menyusul tindakan Amerika Serikat yang menyita kapal tanker milik Iran di kawasan Selat Hormuz.

"Data eksternal sendiri ya, tentang masalah geopolitik di Timur Tengah yang sampai saat ini masih belum ada kejelasan tentang hasil perundingan di Pakistan. Karena Iran sendiri delegasinya tidak datang di Pakistan. Kemudian di sisi lain pun juga, bahwa Iran menganggap bahwa Amerika melanggar gencatan senjata dengan menangkap kapal tanker Iran yang keluar dari Selat Hormuz," jelas Ibrahim Assuaibi.

Selain faktor geopolitik, pasar finansial tengah menyoroti transisi kepemimpinan di bank sentral Amerika Serikat. Spekulasi mengenai kenaikan suku bunga acuan membuat investor cenderung menarik modal dari pasar negara berkembang untuk beralih ke aset yang lebih aman.

Dari sisi domestik, kenaikan harga minyak mentah dunia ikut memperberat posisi fiskal Indonesia. Tingginya ketergantungan pada impor energi menyebabkan permintaan terhadap valuta asing meningkat drastis guna memenuhi kebutuhan minyak nasional yang mencapai 1,5 juta barrel per hari.

Harga minyak mentah jenis Brent saat ini bertahan di level 103 dollar AS per barrel, sementara WTI berada di angka 98 dollar AS per barrel. Lonjakan harga komoditas ini dikhawatirkan akan membengkakkan beban subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Bank Indonesia terus berupaya meredam fluktuasi dengan melakukan intervensi di pasar domestik maupun global. Meskipun sempat menyentuh level Rp 17.307, langkah stabilisasi otoritas moneter tersebut berhasil menarik kembali rupiah ke kisaran Rp 17.286 pada akhir perdagangan.

Artikel terkait

Rekomendasi