Rupiah Melemah ke Rp 17.424 Per Dollar AS Akibat Konflik Timur Tengah

Rupiah Melemah ke Rp 17.424 Per Dollar AS Akibat Konflik Timur Tengah
Foto: Ilustrasi Rupiah Melemah ke Rp 17.424 Per Dollar AS Akibat Konflik Timur Tengah.

Nilai tukar rupiah mengalami pelemahan sebesar 30 poin atau 0,17 persen ke level Rp 17.424 per dollar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan Selasa, (5/5/2026). Penurunan mata uang Garuda ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan militer di kawasan Timur Tengah, dilansir dari Money.

Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Teluk meruntuhkan kesepakatan gencatan senjata yang telah ada sebelumnya. Situasi tersebut menciptakan kekhawatiran pasar terhadap risiko gangguan pasokan energi global secara meluas.

Laporan militer menunjukkan penghancuran enam kapal serang kecil milik Iran oleh militer Amerika Serikat di Selat Hormuz. Ketegangan semakin memuncak menyusul serangan Iran terhadap infrastruktur energi di Uni Emirat Arab, termasuk terminal minyak di pelabuhan Fujairah.

"Militer AS mengatakan telah menghancurkan enam kapal serang kecil Iran selama pertempuran di selat tersebut. Ketegangan meningkat lebih lanjut setelah serangan Iran menargetkan infrastruktur di Uni Emirat Arab, termasuk terminal minyak di pelabuhan Fujairah," ujar Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi.

Kondisi di lapangan saat ini dipantau ketat oleh pelaku pasar melalui program "Proyek Kebebasan" yang dicanangkan Presiden Donald Trump. Kebijakan tersebut melibatkan pengawalan militer terhadap kapal komersial guna membuka jalur pelayaran yang aman di kawasan Teluk.

Meskipun pengawalan kapal membantu distribusi energi dalam jangka pendek, langkah ini dinilai belum mampu menyelesaikan akar konflik yang terjadi. Ketidakpastian yang berkelanjutan membuat harga minyak tetap sensitif terhadap setiap perkembangan aktivitas militer.

Tekanan terhadap rupiah juga diperberat oleh kenaikan harga energi yang meningkatkan risiko inflasi global. Hal ini mendorong bank sentral di berbagai negara untuk mempertahankan suku bunga tinggi, yang pada gilirannya mengangkat imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat.

Di sisi domestik, kinerja ekonomi Indonesia dilaporkan tetap menunjukkan tren positif. Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan, dengan Produk Domestik Bruto atas dasar harga berlaku sebesar Rp 6.187,2 triliun.

Konsumsi rumah tangga tetap menjadi motor penggerak utama ekonomi nasional, didorong oleh meningkatnya aktivitas masyarakat selama hari besar keagamaan. Pemerintah turut memberikan stimulus berupa diskon tiket transportasi serta pencairan tunjangan hari raya untuk menjaga daya beli.

Peningkatan mobilitas tercermin dari pertumbuhan perjalanan wisatawan nusantara sebesar 13,14 persen pada kuartal I 2026. Kondisi ini berjalan beriringan dengan lonjakan jumlah penumpang pada berbagai moda transportasi umum di seluruh wilayah Indonesia.

Artikel terkait

Rekomendasi