Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) terpantau terus mengalami pelemahan signifikan. Kondisi ini memicu kekhawatiran mengenai dampak langsung yang akan dirasakan oleh masyarakat luas.
Berdasarkan data kurs transaksi Bank Indonesia yang dikutip dari Nasional, satu dollar AS dijual seharga Rp17.773,42 pada Kamis 21 Mei 2026. Angka tersebut menunjukkan penurunan tajam dibandingkan pada 2 Januari 2026 yang tercatat sebesar Rp16.803,60.
Sejumlah ekonom menilai tekanan terhadap mata uang garuda dipicu oleh kombinasi faktor global dan domestik. Faktor tersebut meliputi penguatan dollar AS, lonjakan harga minyak dunia, ketegangan geopolitik, hingga penurunan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi nasional.
Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa keperkasaan dollar AS menjadi salah satu faktor utama yang menekan rupiah.
Kenaikan harga minyak global, menurut Ibrahim, meningkatkan risiko inflasi. Hal tersebut membuat pasar memprediksi bank sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed) bakal mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama.
"Penguatan dollar AS terjadi karena meningkatnya risiko inflasi yang didorong oleh tingginya harga minyak yang memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve dapat mempertahankan suku bunga tinggi untuk waktu yang lebih lama," ujar Ibrahim.
Situasi ini akhirnya memicu para investor global untuk memindahkan dana mereka ke aset berbasis dollar AS yang dinilai lebih aman.
Selain faktor global, gejolak geopolitik di kawasan Timur Tengah turut memperberat tekanan terhadap mata uang rupiah. Konflik di wilayah produsen minyak tersebut mengakibatkan harga energi dunia melonjak, sehingga meningkatkan kebutuhan impor energi bagi Indonesia.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira berpendapat bahwa faktor domestik juga memengaruhi pelemahan rupiah, terutama yang berkaitan dengan persepsi investor terhadap stabilitas ekonomi dalam negeri.
"Siapa yang mau berinvestasi dalam kondisi ekonomi yang dianggap shaky atau sangat fluktuatif seperti sekarang?" ujar Bhima.
Bhima menambahkan, fluktuasi tajam pada rupiah membuat investor asing cenderung menarik modal mereka dari pasar saham serta obligasi Indonesia, yang kemudian memperbesar tekanan pada nilai tukar.
Dampak Nyata ke Harga Pangan dan Sektor Domestik
Pelemahan nilai tukar ini juga berpotensi berimbas langsung pada lonjakan harga pangan di tingkat konsumen. Dosen Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Hani Perwitasari menyebut Indonesia masih bergantung pada impor beberapa komoditas seperti gandum, kedelai, dan bawang putih.
Saat rupiah melemah, biaya impor untuk bahan pangan maupun bahan baku produksi otomatis melonjak.
"Fluktuasi nilai tukar ini akan berpengaruh terhadap stabilitas harga pangan, bervariasi bisa dari 2 sampai 8 persen tergantung jenis makanannya," ujar Hani.
Hani menjelaskan bahwa komoditas yang pasokannya terbatas serta sulit dicarikan substitusinya akan menjadi lebih sensitif terhadap perubahan nilai kurs.
Bukan hanya harga pangan, depresiasi rupiah turut mengerek biaya produksi di sektor peternakan dan pertanian akibat ketergantungan input produksi pada pasar global.
Ancaman Inflasi Impor dan Beban Anggaran Negara
Akademisi Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM Rijadh Djatu Winardi menerangkan bahwa kemerosotan rupiah dapat memicu imported inflation atau inflasi yang lahir dari kenaikan harga barang-barang impor.
Ketika mata uang domestik melemah, harga bahan baku industri dari luar negeri menjadi lebih mahal sehingga mengatrol biaya produksi perusahaan.
"Pelemahan rupiah dapat memicu kenaikan harga kebutuhan pokok, transportasi, dan energi," kata Rijadh.
Rijadh memaparkan bahwa sektor subsidi energi menjadi salah satu yang paling terdampak lantaran sebagian kebutuhan energi Indonesia dipenuhi lewat impor. Tekanan kurs ini memperbesar beban subsidi pemerintah dan pembayaran utang luar negeri, yang berujung pada menyempitnya ruang fiskal negara.
Dunia Usaha dan Tekanan Operasional
Sektor industri dalam negeri, khususnya manufaktur yang bergantung pada bahan baku impor, mulai merasakan dampak negatif dari pelemahan kurs ini.
Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo Bob Azam mengungkapkan bahwa sekitar 70% bahan baku untuk sektor manufaktur diperoleh melalui impor.
"Dalam setahun terakhir rupiah juga sudah terdepresiasi lebih dari 7 persen dan itu langsung memukul biaya produksi," ujar Bob.
Dunia usaha saat ini harus menghadapi tekanan berlapis, mulai dari kenaikan biaya logistik, hambatan rantai pasok global, hingga penurunan daya beli masyarakat. Situasi ini memaksa pelaku usaha melakukan efisiensi ketat agar bisa bertahan.
Bob mengingatkan adanya risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) yang mengintai sektor padat karya jika tekanan biaya produksi ini terus berlangsung dalam jangka panjang.
Sikap Pelaku Investasi
Bhima Yudhistira menambahkan bahwa tingginya volatilitas rupiah membuat para investor bertindak lebih hati-hati dalam menanamkan modal di Indonesia, terutama untuk investasi jangka panjang seperti ekspansi industri atau pembangunan pabrik.
Masalah pelemahan rupiah dinilai bukan sekadar gejolak di pasar keuangan, melainkan persoalan yang memengaruhi aktivitas harian masyarakat melalui kenaikan harga barang, energi, transportasi, hingga ketersediaan lapangan kerja.
"Kalau kondisi kurs terus berubah-ubah seperti sekarang, rencana bisnis investor juga ikut berubah. Akibatnya ada potensi capital flight, investor yang tadinya mau masuk akhirnya batal, sementara industri yang sudah ada bisa menunda ekspansi atau bahkan relokasi," ujar Bhima.
Para ekonom menyimpulkan bahwa menjaga stabilitas nilai tukar rupiah menjadi instrumen krusial demi melindungi daya beli masyarakat, menjaga iklim investasi, dan menopang pertumbuhan ekonomi nasional.