Rupiah Melemah ke Rp 17.717 akibat Sentimen Domestik dan Global

Rupiah Melemah ke Rp 17.717 akibat Sentimen Domestik dan Global
Foto: Ilustrasi Rupiah Melemah ke Rp 17.717 akibat Sentimen Domestik dan Global.

Nilai tukar rupiah di pasar spot kembali mengalami tekanan besar terhadap dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan Jumat (22/5/2026). Performa mata uang Garuda tersebut merosot sebesar 50 poin atau setara 0,28 persen hingga terdampar ke level Rp 17.717 per dolar Amerika Serikat, sebagaimana dilansir dari Money.

Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa kemerosotan nilai tukar ini dipicu oleh kombinasi faktor internal dan eksternal. Di dalam negeri, respons pasar internasional terhadap pidato Presiden Prabowo Subianto dalam sidang paripurna DPR RI pada Rabu (20/5/2026) mengenai Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok Pokok Kebijakan Fiskal RAPBN 2027 menjadi sorotan utama lembaga pemeringkat S&P Global Ratings.

S&P Global Ratings menyoroti rencana pendirian PT Danantara Sumberdaya Indonesia yang akan mengendalikan ekspor komoditas wajib seperti batu bara, CPO, dan ferro alloy secara terpusat. Kebijakan satu pintu ini dikhawatirkan dapat menekan volume ekspor, menggerus penerimaan negara, serta memperlebar defisit fiskal hingga mendekati angka 3 persen.

ÔÇ£Nah secara internal pidato Presiden kemarin di DPR ini pun juga direview oleh pemeringkat internasional, salah satunya S&P Global yang kemungkinan besar akan menurunkan peringkat rating Indonesia,ÔÇØ ujar Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang dan Komoditas.

Ibrahim juga menilai proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional yang dipatok pada angka 5,8 persen hingga 6 persen terlalu ambisius untuk dicapai. Menurutnya, target tersebut kurang realistis mengingat situasi perekonomian global saat ini masih berada dalam tekanan berat yang diprediksi akan terus berlangsung hingga tahun 2027.

ÔÇ£Nah di sisi lain dalam pidato presiden juga disampaikan pertumbuhan ekonomi 5,8 persen sampai 6 persen. Ini mengindikasikan optimisme yang terlalu tinggi di tengah kondisi global yang tidak baik-baik saja dan kemungkinan masih berlanjut sampai 2027,ÔÇØ kata Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang dan Komoditas.

Meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat tumbuh positif sebesar 5,61 persen pada kuartal I 2026, intervensi pasar belum membuahkan hasil optimal. Upaya Bank Indonesia serta langkah Kementerian Keuangan yang menjual surat utang negara senilai Rp 2 triliun hingga Rp 4 triliun dinilai belum mampu membalikkan tren pelemahan rupiah secara signifikan.

ÔÇ£Segala cara dilakukan oleh Bank Indonesia sudah dilakukan. Tujuh jurus juga sudah dilakukan. Pemerintah melalui Menteri Keuangan juga sudah melakukan operasi pasar dengan menjual surat utang negara Rp 2 triliun sampai Rp 4 triliun, tetapi ini masih belum bisa membuat rupiah menguat,ÔÇØ sebut Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang dan Komoditas.

Dari sisi eksternal, ketidakpastian geopolitik yang melibatkan perundingan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran dengan mediasi Pakistan turut menahan laju mata uang domestik. Pasar meragukan tercapainya kesepakatan karena hambatan terkait program uranium, penguatan militer Iran, serta ketegangan di Selat Hormuz.

ÔÇ£Investor meragukan prospek terobosan dalam perundingan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran yang diprakarsai Pakistan. Sampai saat ini belum ada kesepakatan yang tercapai dengan Amerika Serikat,ÔÇØ lanjut Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang dan Komoditas.

Konflik yang terus memanas ini memicu kenaikan harga minyak dunia dan memperbesar risiko inflasi global. Situasi tersebut membuka peluang bagi bank sentral AS, The Fed, untuk mempertahankan suku bunga tinggi atau bahkan menaikkannya hingga 50 basis poin sampai akhir tahun.

Artikel terkait

Rekomendasi