Nilai tukar rupiah diprediksi mengalami fluktuasi dengan kecenderungan melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (11/5/2026) di kisaran Rp17.380 hingga Rp17.430. Pelemahan ini dipicu oleh ketegangan geopolitik antara AS dan Iran serta ketidakpastian kebijakan suku bunga The Fed.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa penguatan indeks dolar AS memberikan tekanan signifikan pada mata uang Garuda. Kondisi tersebut diperparah oleh memanasnya situasi di Timur Tengah yang mengancam stabilitas pasokan energi global.
"Rupiah ditutup melemah 49 poin ke level Rp17.382 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.359 per dolar AS," kata Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Traze Andalan Futures sebagaimana dilansir dari Market.
Ibrahim menyatakan bahwa eskalasi konflik antara AS dan Iran menimbulkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap jalur distribusi di Selat Hormuz. Padahal, wilayah tersebut merupakan lintasan krusial bagi perdagangan minyak dan gas internasional.
"Iran menuduh AS melanggar gencatan senjata, sementara AS menyebut serangannya sebagai balasan atas tembakan Iran terhadap kapal angkatan lautnya," kata Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Traze Andalan Futures.
Sentimen negatif juga datang dari pernyataan pejabat Federal Reserve terkait prospek kebijakan moneter. Presiden Federal Reserve Cleveland, Beth Hammack, memberikan sinyal bahwa tingkat suku bunga tinggi masih akan dipertahankan dalam periode yang lebih lama.
Kondisi internal ekonomi Indonesia turut menjadi perhatian pasar seiring dengan laporan posisi utang pemerintah. Per 31 Maret 2026, total utang tercatat mencapai Rp9.920,42 triliun atau setara dengan 40,75% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Angka utang tersebut mengalami kenaikan hampir 3% jika dibandingkan dengan posisi pada akhir tahun 2025 yang sebesar Rp9.637,9 triliun. Meskipun meningkat, pemerintah menegaskan bahwa rasio ini masih berada di bawah ambang batas aman internasional yakni 60% terhadap PDB.
Tekanan fiskal semakin terasa mengingat realisasi defisit anggaran pada kuartal I/2026 telah menyentuh Rp240,1 triliun atau 0,93% dari PDB. Di saat bersamaan, realisasi pembiayaan utang tercatat sudah mencapai Rp258,7 triliun.