Rupiah Melemah ke Rp 17.243 Akibat Konflik AS dan Iran

Rupiah Melemah ke Rp 17.243 Akibat Konflik AS dan Iran
Foto: Ilustrasi Rupiah Melemah ke Rp 17.243 Akibat Konflik AS dan Iran.

Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup terdepresiasi sebesar 32 poin atau 0,19 persen ke posisi Rp 17.243 per dollar AS pada perdagangan Selasa (28/4/2026). Dilansir dari Money, pelemahan mata uang Garuda ini dipicu oleh buntunya proses perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran.

Kondisi geopolitik tersebut berdampak langsung pada distribusi energi global karena sebagian jalur strategis di Selat Hormuz masih dilaporkan tertutup. Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa mandeknya upaya damai membuat pasokan minyak dari Timur Tengah sulit diakses.

"Upaya untuk mengakhiri perang AS-Iran tampaknya terhenti, dengan jalur air penting Selat Hormuz masih sebagian besar tertutup, sehingga pasokan energi dari wilayah penghasil minyak utama di Timur Tengah tersebut tidak dapat diakses oleh pembeli global," ujar Ibrahim Assuaibi, Analis mata uang dan komoditas.

Ibrahim mengungkapkan bahwa pihak Iran sebenarnya sempat mengajukan usulan baru untuk membuka kembali jalur pelayaran tersebut pada awal pekan ini. Namun, Pemerintah Amerika Serikat melalui Washington bersikap skeptis lantaran usulan tersebut tidak menyertakan pembahasan mengenai program nuklir Teheran.

Presiden AS Donald Trump dilaporkan tidak puas karena proposal Iran hanya menitikberatkan pada penyelesaian sengketa pelayaran di Teluk dan penghentian konflik. Akibatnya, Iran tetap menutup Selat Hormuz yang menyuplai 20 persen kebutuhan migas dunia, sementara AS tetap memblokade pelabuhan Iran.

Di sisi lain, pasar tengah mencermati arah kebijakan moneter Federal Reserve yang akan menggelar pertemuan pekan ini. The Fed diprediksi tetap mempertahankan tingkat suku bunga sembari memantau proyeksi inflasi di tengah ketegangan global yang masih berlangsung.

Ibrahim Assuaibi juga memberikan catatan kritis mengenai narasi pemerintah yang sering menyebut nilai tukar rupiah sedang berada di bawah nilai wajar atau undervalued setiap kali terjadi depresiasi. Ia menyoroti tren pelemahan jangka panjang sejak 2014 saat rupiah masih di level Rp 12.000 hingga kini menyentuh Rp 17.000-an.

"Dalam kondisi rupiah melemah, pemerintah maupun Bank Indonesia selalu beranggapan bahwa rupiah berada di bawah nilai wajarnya atau undervalued. Narasi tersebut terus berulang dalam berbagai situasi, baik saat gejolak global, pandemi, maupun ketika kondisi pasar relatif stabil. Bahkan, ketika nilai tukar menyentuh kisaran Rp 17.300 per dollar AS, pernyataan serupa kembali mengemuka," papar Ibrahim Assuaibi, Analis mata uang dan komoditas.

Meskipun fundamental ekonomi domestik seperti inflasi dan pertumbuhan ekonomi dinilai masih solid, Ibrahim mengingatkan adanya tantangan struktural pada cadangan devisa dan ketergantungan pada modal asing. Ia menilai narasi undervalued tersebut berisiko menjadi kontraproduktif bagi kepercayaan pasar.

"Penguatan kepercayaan terhadap mata uang tidak dapat dibangun hanya melalui narasi. Langkah tersebut harus didasarkan pada perbaikan fundamental ekonomi secara nyata," lanjut Ibrahim Assuaibi, Analis mata uang dan komoditas.

Artikel terkait

Rekomendasi