Rupiah Melemah ke Level Rp 17.300 Akibat Lonjakan Harga Minyak Dunia

Rupiah Melemah ke Level Rp 17.300 Akibat Lonjakan Harga Minyak Dunia
Foto: Ilustrasi Rupiah Melemah ke Level Rp 17.300 Akibat Lonjakan Harga Minyak Dunia.

Nilai tukar rupiah mengalami tekanan hebat hingga menembus level Rp 17.300 per dollar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan Jumat (24/4/2026). Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap ketahanan fiskal negara akibat lonjakan harga minyak mentah dunia yang melampaui asumsi anggaran pemerintah.

Dilansir dari Money, mata uang Garuda di pasar spot ditutup pada posisi Rp 17.229 per dollar AS setelah sempat menguat 57 poin. Namun, pergerakan mata uang ini diprediksi masih akan berfluktuasi pada rentang Rp 17.180 hingga Rp 17.400 dalam sepekan ke depan.

Pengamat pasar uang memberikan proyeksi mengenai pergerakan nilai tukar yang cenderung melemah akibat akumulasi sentimen global dan kebutuhan dollar domestik yang tinggi.

"Untuk perdagangan Senin depan, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 17.220- Rp.17.260. Rupiah untuk sepekan di range Rp 17.180- Rp 17.400," ujar Analis mata uang Ibrahim Assuaibi, Sabtu (25/4/2026).

Ibrahim menjelaskan bahwa ketidaksesuaian antara asumsi APBN 2026 dengan realisasi pasar menjadi beban berat bagi struktur keuangan negara saat ini.

"Nah pelemahan rupiah ini karena apa? Karena kondisi ekonomi di Indonesia pun juga terguncang. Dengan naiknya harga minyak yang kita lihat dari APBN itu hanya 70 dollar AD per barrel, kemudian di APBN juga rupiah itu dipatok di Rp 16.500, kenyataannya harga minyak itu sudah di atas 90 per dollar AS (per barrel)," ucap Ibrahim.

Tekanan fiskal ini diprediksi akan memperlebar defisit anggaran pemerintah seiring dengan membengkaknya biaya subsidi energi dan pengadaan impor.

"Kemudian rupiah itu pun juga sudah di atas Rp 16.700. Bahkan di Rp 17.300, ini mengindikasikan fiskal kita ini mengalami satu permasalahan, ini yang akan berdampak terhadap apa? Terhadap defisit anggaran," paparnya.

Mengenai langkah penyelamatan stabilitas nilai tukar, Bank Indonesia dilaporkan terus melakukan intervensi pasar meskipun efektivitasnya dibayangi ketegangan geopolitik Timur Tengah.

"Tetapi intervensi ini ya tidak akan kuat karena apa? Kondisi geopolitik yang cukup besar. Ini membuat goncangan terhadap rupiah ini begitu kuat. Sehingga apa? Sehingga rupiah kembali mengalami pelemahan," beber Ibrahim.

Kebijakan bank sentral dalam mempertahankan instrumen moneter dinilai masih menjadi benteng utama dalam meredam volatilitas pasar jangka pendek.

"Ini saya anggap masih efektif karena selama ini Bank Indonesia di situ ya melakukan intervensinya. Jadi tidak kemana-mana dan hanya fokus terhadap apa yang sesuai dengan kebijakan-kebijakan bank sentral," tukas Ibrahim.

Kebutuhan dollar yang melonjak signifikan untuk menutupi biaya impor minyak sebanyak 1,5 juta barrel per hari menjadi faktor utama penguatan mata uang AS terhadap rupiah.

"Impor minyak kita itu 1,5 juta barrel per hari ya. Artinya apa? Pada saat dulu dipatok di Rp 16.500, kemudian minyaknya di 70 dollar AS per barrel, sekarang naik di atas 90 dollar AS, kemudian rupiah-nya di Rp 17.300," ucap Ibrahim.

Lonjakan permintaan valuta asing tanpa imbangan pasokan yang cukup mengakibatkan pemerintah memerlukan dana talangan dalam jumlah besar.

"Sehingga apa? Sehingga ini kan perlu dana talangan. Nah kenaikan cukup signifikan sehingga pemerintah butuh dollar yang cukup banyak. Kenapa butuh dollar yang banyak inilah yang membuat harga dollar semakin tinggi dan Indonesia subsidi-nya semakin besar," lanjut Ibrahim.

Faktor lain yang memperberat posisi rupiah adalah kewajiban utang jatuh tempo pemerintah tahun 2026 yang mencapai angka Rp 833,96 triliun.

"Fenomena ini sebagai "tembok utang" atau debt wall, yakni kondisi ketika beban jatuh tempo utang menumpuk dalam satu periode tertentu. Nilai jatuh tempo 2026 bahkan lebih tinggi dibandingkan 2025 yang sebesar Rp 800,33 triliun, dan menjadi puncak dalam siklus pembayaran utang periode 2025-2036," ungkap Ibrahim.

Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia menetapkan BI Rate tetap pada level 4,75 persen guna menjaga stabilitas ekonomi dari dampak memburuknya kondisi global.

Artikel terkait

Rekomendasi