Rupiah Menyentuh Level Terlemah Sepanjang Sejarah terhadap Dollar AS

Rupiah Menyentuh Level Terlemah Sepanjang Sejarah terhadap Dollar AS
Foto: Ilustrasi Rupiah Menyentuh Level Terlemah Sepanjang Sejarah terhadap Dollar AS.

Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) kembali menjadi sorotan setelah merosot ke posisi terendah dalam sejarah. Dikutip dari Money, mata uang Indonesia ditutup melemah 13,50 poin atau 0,08 persen ke level Rp 17.667 per dollar AS pada Kamis (21/5/2026).

Kemerosotan ini memicu kekhawatiran masyarakat mengenai faktor penyebab serta dampaknya terhadap situasi ekonomi sehari-hari. Sejumlah ekonom menilai tekanan dipicu oleh kombinasi faktor global dan domestik yang terjadi secara bersamaan.

Dampak penurunan nilai tukar ini tidak hanya berimbas pada pasar keuangan. Situasi tersebut juga berpotensi menaikkan harga kebutuhan pokok, biaya transportasi, energi, hingga memengaruhi keberlangsungan usaha dan lapangan pekerjaan.

Dosen Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Hani Perwitasari menyatakan bahwa fluktuasi kurs rupiah berpengaruh langsung pada stabilitas harga pangan nasional. Hal ini terjadi karena Indonesia masih bergantung pada impor untuk komoditas tertentu.

Indonesia tercatat masih mengimpor sejumlah bahan pangan seperti kedelai, gandum, dan bawang putih. Saat rupiah melemah, biaya impor pangan dan bahan baku otomatis melonjak sehingga memicu kenaikan harga di tingkat konsumen.

ÔÇ£Untuk fluktuasi nilai tukar ini akan berpengaruh terhadap stabilitas harga pangan, bervariasi bisa dari 2 sampai 8 persen tergantung jenis makanannya,ÔÇØ ujar Hani, dikutip dari laman resmi UGM.

Hani menambahkan bahwa dampak pelemahan ini berbeda-beda pada setiap komoditas, tergantung kondisi pasokan di dalam negeri. Komoditas yang stoknya mencukupi cenderung lebih stabil, sedangkan pasokan yang terbatas menjadi lebih sensitif.

ÔÇ£Komoditas yang tidak bisa disubstitusi dan memiliki keterbatasan pasokan akan lebih sensitif terhadap fluktuasi nilai tukar,ÔÇØ kata Hani.

Selain harga pangan, biaya produksi sektor pertanian dan peternakan ikut terancam naik karena sebagian input produksi berkaitan dengan pasar global.

ÔÇ£Kenaikan biaya input pada akhirnya akan meningkatkan total biaya produksi yang harus ditanggung pelaku usaha,ÔÇØ ujarnya.

Kenaikan modal produksi tersebut berpotensi diteruskan kepada konsumen dalam bentuk harga barang yang lebih mahal di pasar.

Penguatan Dollar AS dan Faktor Geopolitik

Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa pelemahan rupiah sejalan dengan keperkasaan dollar AS di pasar global. Lonjakan harga minyak dunia turut meningkatkan risiko inflasi global saat ini.

ÔÇ£Penguatan dollar AS terjadi karena meningkatnya risiko inflasi yang didorong oleh tingginya harga minyak yang memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve dapat mempertahankan suku bunga tinggi untuk waktu yang lebih lama,ÔÇØ ujar Ibrahim.

Tingginya harga energi membuat pelaku pasar memproyeksikan bank sentral AS atau The Fed akan menahan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama. Kondisi ini memicu investor global memindahkan dana mereka ke aset dollar AS yang dinilai lebih aman.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah ikut memperparah tekanan terhadap mata uang garuda. Serangan drone di Uni Emirat Arab dan Arab Saudi, serta memanasnya hubungan AS-Iran, mengancam stabilitas pasokan minyak dunia.

Harga minyak yang melonjak memperbesar tekanan inflasi global. Indonesia sebagai negara net importir minyak terkena imbas langsung karena kebutuhan terhadap mata uang dollar AS otomatis meningkat.

Ibrahim juga menggarisbawahi bahwa pola komunikasi pemerintah turut memengaruhi persepsi pelaku pasar terhadap kondisi fundamental ekonomi domestik.

Ancaman Imported Inflation dan Beban Subsidi

Akademisi Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM Rijadh Djatu Winardi menerangkan bahwa depresiasi kurs dapat memicu imported inflation atau inflasi yang berasal dari barang impor. Kenaikan harga bahan baku impor mengerek biaya operasional industri.

ÔÇ£Pelemahan rupiah dapat memicu kenaikan harga kebutuhan pokok, transportasi, dan energi,ÔÇØ ujar Rijadh.

Sektor subsidi energi menjadi salah satu lini yang paling terdampak akibat ketergantungan pada komponen impor. Saat rupiah terpuruk, beban subsidi yang ditanggung pemerintah membengkak dan mempersempit ruang fiskal.

ÔÇ£Tekanan kurs menambah beban subsidi energi dan utang luar negeri sehingga mempersempit fleksibilitas fiskal pemerintah,ÔÇØ kata Rijadh.

Kondisi ini berantai pada tarif energi serta ongkos transportasi publik. Kenaikan biaya energi akan meningkatkan biaya distribusi barang yang kemudian dibebankan kepada konsumen akhir.

Sentimen Investor dan Risiko Sektor Industri

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira berpendapat bahwa pelemahan ini juga dipengaruhi faktor fundamental domestik dan tingkat kepercayaan investor.

ÔÇ£Siapa yang mau berinvestasi dalam kondisi ekonomi yang dianggap shaky atau sangat fluktuatif seperti sekarang?ÔÇØ kata Bhima, Senin (18/5/2026).

Ketika kurs bergejolak tajam, investor asing memilih menarik modal mereka dari pasar saham dan obligasi dalam negeri guna menekan risiko. Arus modal keluar (capital outflow) ini memberikan tekanan tambahan bagi rupiah.

Bhima memperingatkan jika tren ini terus berlanjut tanpa adanya intervensi yang efektif, nilai tukar rupiah berisiko menembus angka psikologis baru.

ÔÇ£Kalau hari ini kurs sekitar Rp 17.600 dan pelemahannya rata-rata 0,5 persen per hari, maka pada 9 Juni 2026 rupiah bisa tembus di atas Rp 20.000 per dollar AS,ÔÇØ ujar Bhima.

Biaya impor bahan baku, mesin industri, hingga energi yang membengkak berpotensi kuat memicu kenaikan harga barang dan inflasi dalam beberapa bulan ke depan.

ÔÇ£Pelaku usaha pasti melihat pelemahan kurs akan memengaruhi daya beli dan inflasi, sehingga mereka mulai merombak strategi bisnisnya di Indonesia,ÔÇØ katanya.

Sektor manufaktur menjadi salah satu yang paling rentan karena mayoritas bahan baku produksi masih didatangkan dari luar negeri.

Ketua Bidang Ketenagakerjaan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bob Azam mengungkapkan bahwa sekitar 70 persen bahan baku industri manufaktur bergantung pada pasar impor.

ÔÇ£Sekitar 70 persen bahan baku sektor manufaktur masih impor. Dalam setahun terakhir rupiah juga sudah terdepresiasi lebih dari 7 persen dan itu langsung memukul biaya produksi,ÔÇØ ujar Bob.

Dunia usaha saat ini menghadapi tekanan berlapis, mulai dari biaya logistik, gangguan rantai pasok global, hingga penurunan daya beli masyarakat.

ÔÇ£Dunia usaha sekarang dipaksa melakukan efisiensi dan meningkatkan produktivitas semaksimal mungkin karena kenaikan biaya sudah dua digit, sementara harga jual tidak bisa dinaikkan sembarangan,ÔÇØ katanya.

Bob menambahkan, risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) mulai mengancam sektor padat karya jika tekanan biaya ini terus berlangsung tanpa relaksasi.

Selain itu, ketidakpastian kurs meningkatkan biaya investasi dan pembiayaan baru. Risiko kurs yang tinggi berpotensi menaikkan bunga obligasi serta biaya pinjaman perbankan.

Bhima menilai situasi ini membuat investor lebih berhati-hati dalam menanamkan modal jangka panjang di Indonesia, seperti pembangunan pabrik atau ekspansi usaha.

ÔÇ£Kalau kondisi kurs terus berubah-ubah seperti sekarang, rencana bisnis investor juga ikut berubah. Akibatnya ada potensi capital flight, investor yang tadinya mau masuk akhirnya batal, sementara industri yang sudah ada bisa menunda ekspansi atau bahkan relokasi,ÔÇØ ucap Bhima.

Artikel terkait

Rekomendasi