Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diproyeksikan terus melemah hingga menembus level Rp18.000 per dolar AS pada pekan depan akibat tekanan persoalan struktural ekonomi dan keluarnya dana asing, seperti dilansir dari Investortrust pada Jumat (29/5/2026).
Kondisi pasar domestik mencatat pergerakan yang kontras, di mana mata uang rupiah ditutup melemah ke posisi Rp17.874 per dolar AS pada perdagangan Jumat siang (29/5/2026) serta terpuruk terhadap mata uang asing lainnya termasuk dolar Singapura dan Euro, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru ditutup menguat signifikan 87,69 poin ke level 6.217.
Pengamat komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa kemerosotan nilai mata uang garuda ini dipicu oleh faktor-faktor di luar kendali otoritas moneter, termasuk respons pasar terhadap pergantian menteri keuangan.
"Kemungkinan besar antara hari Senin pada saat libur atau Selasa, kemungkinan besar Rupiah menyentuh Rp18.000 per dolar AS," ujar Ibrahim, Jumat (29/5/2026).
Kebijakan domestik dan dinamika pasar modal global dinilai turut memberikan sentimen negatif terhadap minat investasi di dalam negeri.
"Kita melihat bahwa pada saat Presiden mengganti menteri keuangan dari Sri Mulyani ke Purbaya banyak sekali pernyataan-pernyataan yang berlawanan dengan pasar," kata Ibrahim.
Ketidakpastian pasar diperparah oleh keputusan Morgan Stanley Capital Index (MSCI) yang memicu gejolak di pasar saham hingga berujung pada perombakan dewan pimpinan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), di samping adanya pembengkakan defisit transaksi berjalan Indonesia pada kuartal I-2026 yang mencapai US$4 miliar atau setara 1,1% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Lonjakan defisit transaksi berjalan sebesar 96,27% secara tahunan tersebut membuat investor asing enggan menempatkan modal mereka di pasar obligasi maupun saham Indonesia.
"Nah yang terjadi selama ini, pemerintah harus mencari utang baru," ujar Ibrahim.
Di sisi lain, tekanan terhadap mata uang nasional juga dipicu oleh fenomena fear of missing out (FOMO) di mana masyarakat berbondong-bondong memindahkan simpanan mereka ke instrumen mata uang asing.
Data OJK menunjukkan dana pihak ketiga (DPK) valuta asing tumbuh 10,87% secara tahunan pada April 2026, yang didorong oleh kenaikan tabungan valas sebesar 23,12% dan deposito valas sebesar 22%, dengan porsi total DPK valas berada di kisaran 15-16%.
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh kebijakan pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) oleh Presiden Prabowo Subianto pada 20 Mei 2026 yang berdampak pada kontrak-kontrak perusahaan tambang.
"Ini membuat kekacauan tersendiri. Bagi pasar, perusahaan-perusahaan tambang, ini juga sudah memiliki kontrak jangka pendek, menengah, dan panjang dengan perusahaan lain," ujar Ibrahim.