Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) diperkirakan mengalami tekanan hingga menyentuh level Rp 17.660 pada perdagangan Senin (18/5/2026). Gejolak eksternal dan sentimen domestik menjadi pemicu utama proyeksi pelemahan mata uang Garuda awal pekan ini.
Proyeksi pergerakan kurs ini dilansir dari Money melalui analisis pasar komoditas dan mata uang. Rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif pada kisaran Rp 17.590 hingga Rp 17.660 per dollar AS dengan potensi penurunan sebesar 50 poin.
"Untuk rupiah mungkin diperdagangkan hari Senin, kemungkinan melemah di Rp 17.590 sampai Rp 17.660. Ada kemungkinan besar 50 poin mengalami pelemahan," ujar Ibrahim Assuaibi, Analis mata uang dan komoditas.
Faktor eksternal seperti peningkatan ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi sorotan utama yang memicu ketidakpastian global. Ibrahim Assuaibi menyoroti stabilitas jalur energi dunia yang terganggu akibat insiden penyitaan kapal komersial asing oleh Iran di tengah pelaksanaan KTT AS dan China.
"Masalah Selat Hormuz masih menjadi perhatian. Apalagi pada saat KTT di Tiongkok kemarin, Iran menyita kapal Tiongkok. Artinya ini membuat ketegangan tersendiri," kata Ibrahim Assuaibi.
Situasi geopolitik kian memburuk menyusul operasi militer Israel yang terus berlangsung di wilayah Lebanon Selatan serta penargetan pimpinan Hamas. Kondisi ini memicu penguatan dollar AS sebagai aset aman, sementara harga minyak mentah dunia ikut melonjak tajam.
Berdasarkan data perdagangan, harga minyak Brent naik 7,84 persen dalam sepekan ke level 109,26 dollar AS per barel, sedangkan minyak WTI melonjak 10,48 persen ke posisi 105,42 dollar AS per barel. Lonjakan ini memperberat beban ekonomi Indonesia yang membutuhkan pasokan valuta asing besar untuk impor minyak sekitar 1,5 juta barel.
"Harga minyak mentah pun juga akan terus mengalami kenaikan, sehingga berdampak terhadap ekonomi di dalam negeri, terutama adalah tentang masalah impor, selalu saya katakan adalah impor minyak yang begitu besar 1,5 juta per barrel," papar Ibrahim Assuaibi.
Tekanan terhadap mata uang domestik juga diperberat oleh faktor musiman seperti siklus pembagian dividen perusahaan dan jatuh tempo utang luar negeri. Data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan mencatat posisi utang pemerintah per 31 Maret 2026 mencapai Rp 9.920,42 triliun, atau setara dengan rasio 40,75 persen terhadap PDB.
Sentimen negatif tambahan datang dari pasar saham terkait rencana rebalancing indeks global FTSE Russell dan MSCI terhadap saham berkonsentrasi kepemilikan tinggi. Di sisi lain, respons negatif investor juga dipicu oleh pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut pelemahan rupiah tidak berdampak pada ekonomi pedesaan.