Ketika Ruang Kelas Bertukar Posisi di Pulau Seram

Ketika Ruang Kelas Bertukar Posisi di Pulau Seram
Foto: Ilustrasi Ketika Ruang Kelas Bertukar Posisi di Pulau Seram.

Ketika sedang mengajar, tetapi justru diam-diam sedang belajar dari pengalaman murid sendiri. Nah, sejauh mana sebuah ruang kelas mampu menjelaskan kenyataan hidup yang begitu luas di luar sana?

Seorang murid saya selalu tertawa kecil sekaligus gemas setiap kali saya keliru melafalkan nama kampung halamannya di dalam naskah skripsi. Ia bukan mahasiswa Departemen Sejarah, melainkan Ilmu Keperawatan. Ia ÔÇ£dititipkanÔÇØ kepada saya agar mendapatkan perspektif lokal dan global dalam kajian promosi kesehatan yang sedang ia teliti.

Membimbing mahasiswa dari disiplin ilmu kesehatan selalu menghadirkan ritme yang berbeda dibanding dunia saya sebagai sejarawan. Dalam bidang mereka, ketelitian menjadi sesuatu yang mutlak karena menyangkut kehidupan manusia. Sementara saya terbiasa bekerja dengan konteks waktu, arsip, dan jejak masa lalu.

Ada masa ketika dosen pembimbing utamanya ingin berdiskusi dengan saya mengenai cara saya membangun dialog dengan mahasiswa. Namun di lain waktu, justru saya yang merasa kehilangan pijakan karena tidak sepenuhnya memahami dunia yang sedang ia bawa ke ruang diskusi kami.

Bayangkan saja, seorang sejarawan diminta memahami promosi kesehatan bagi perempuan suku Alune-Wemale dengan hiperurisemia. Saya bahkan baru mengetahui bahwa istilah tersebut merujuk pada kadar asam urat tinggi. Pengetahuan saya tentang masyarakat Alune pun sangat terbatas. Sebagian besar hanya berasal dari satu disertasi karya Dyah Maria Wirawati Suharno mengenai pencitraan lingkungan alam dan perilaku pertanian orang Alune. Itu pun lebih banyak membahas Alune, bukan Wemale.

Sebagai sejarawan, kajian saya selalu terikat pada konteks sejarah dan sumber-sumber sezaman. Karena itu, saya sempat kesulitan membantu mahasiswa saya memahami bagaimana hiperurisemia hadir dalam kehidupan masyarakat hari ini. Saya juga sempat bertanya-tanya, mengapa penelitian dilakukan di Pulau Seram, bukan di daerah yang lebih dekat seperti Salatiga?

Percakapan demi percakapan akhirnya membuka banyak hal baru.

Mahasiswa saya bercerita bahwa ia berasal dari bagian selatan Pulau Seram. Konflik tapal batas wilayah pernah membuat keluarganya harus mengungsi ke Ambon. Ia juga menjelaskan bahwa laporan kesehatan di Provinsi Maluku menunjukkan angka hiperurisemia yang cukup tinggi. Keterbatasan layanan kesehatan serta biaya pengobatan menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan.

Dari dirinya pula saya mulai memahami bahwa penyakit tidak pernah berdiri sendiri. Ia berkaitan erat dengan pola makan, dan dalam masyarakat Alune-Wemale, makanan bukan sekadar soal nutrisi, melainkan bagian dari struktur sosial dan budaya. Ia menjelaskan tentang makanan turun-temurun yang diwariskan lintas generasi, juga putus pusa, yaitu makanan yang sejak kecil telah menjadi bagian dari kebiasaan hidup masyarakat. Salah satu contohnya adalah papeda.

Ada pula konsep kumpul basudara, ketika makanan menjadi medium relasi sosial. Hidangan sederhana seperti cabai dan garam yang diletakkan di tengah meja ternyata memiliki makna yang lebih dalam: makan bukan sekadar aktivitas individual, melainkan ruang kebersamaan. Ia juga bercerita tentang makanan adat dan istilah ÔÇ£bahaya SeramÔÇØ atau peringatan air turun naik.

ÔÇ£Bukankah air naik dulu baru turun?ÔÇØ tanya saya spontan, membayangkan ombak pantai selatan di dekat rumah nenek saya.

ÔÇ£Seng, Bu. Turun dulu baru naik.ÔÇØ ujar mahasiswa, Ilmu Keperawatan.

Perdebatan kecil itu baru selesai ketika ia memutuskan menelepon orang tuanya untuk memastikan kembali istilah tersebut.

Pengetahuan Baru dari Timur Indonesia

Keesokan harinya, mahasiswa saya datang membawa penjelasan yang lebih lengkap. ÔÇ£Air turun naikÔÇØ itu, katanya, merujuk pada bencana besar yang serupa tsunami Aceh. Ia juga menjelaskan bahwa masyarakat di sana memiliki peringatan kolektif setiap 29 September untuk mengenang peristiwa tersebut.

Saat itulah saya tersadar bahwa selama ini pengetahuan kita tentang kebencanaan di Indonesia Timur masih sangat minim. Kita begitu akrab dengan tsunami Aceh, tetapi nyaris tidak mengenal sejarah bencana besar di Pulau Seram. Rasa penasaran membawa saya berselancar di arsip digital dan menemukan catatan tentang bencana 29 September 1899.

Semakin banyak membaca, semakin besar kegelisahan saya. Peristiwa tersebut ternyata bukan hanya soal bencana alam, tetapi juga berkaitan dengan reorganisasi wilayah dan konflik administratif yang berlangsung panjang.

Dalam studi sejarah kolonial yang pernah saya pelajari, reorganisasi desa sering dilakukan atas nama efisiensi administrasi. Namun dampaknya tidak sederhana. Ia bisa melahirkan ketegangan sosial, stigma, bahkan konflik yang diwariskan lintas generasi. Namun pengalaman mahasiswa saya membawa perspektif yang sama sekali baru. Ternyata ada reorganisasi wilayah yang lahir dari pengalaman bencana, bukan semata kebijakan ekonomi kolonial.

Diskusi kami pun bergerak jauh. Dari hiperurisemia, kami berbicara tentang makanan, bencana, hingga sejarah kolonial yang tiba-tiba terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Saat Guru dan Murid Bertukar Posisi

Saya mungkin masih sesekali salah melafalkan ÔÇ£SeramÔÇØ. Namun saya tahu bahwa dalam arsip kolonial Belanda, pulau itu ditulis sebagai Ceram. Saya bahkan mulai mencari arsip menggunakan kata kunci berbahasa Belanda tentang gempa bumi dan gelombang pasang.

ÔÇ£Ini cerita tentang kampungmu, Kak.ÔÇØ ujar dosen, Departemen Sejarah.

Saya memutar laptop dan membiarkannya membaca sejarah leluhurnya sendiri.

Saya sadar, ia bukan mahasiswa sejarah. Saya tidak ingin memaksanya tenggelam terlalu jauh dalam arsip masa lalu. Namun saya berharap, setidaknya ia memahami konteks lokal tempat penelitiannya berlangsung agar promosi kesehatan yang ia susun benar-benar relevan dengan masyarakatnya.

Tanpa diduga, harapan sederhana itu justru membawa saya pada situasi lain.

ÔÇ£Bapa dan Tete minta Ibu datang.ÔÇØ ujar mahasiswa, Ilmu Keperawatan.

Mengapa saya harus datang jauh-jauh ke kampungnya? Membayangkan perjalanan menuju Pulau Seram saja sudah terasa melelahkan: perjalanan darat menuju bandara, transit di Jakarta atau Makassar, bermalam di Ambon, menyeberang laut, lalu kembali melanjutkan perjalanan darat. Belum lagi saya hanyalah staf pengajar pemula dengan akses riset yang terbatas. Dana penelitian internal kampus pun tidak besar. Secara logika, perjalanan itu terasa sulit diwujudkan.

Namun ada sesuatu yang lebih sulit diabaikan. Selama ini saya melihat bagaimana mahasiswa dari wilayah 3T kerap menghadapi stigma tertentu. Ada yang dianggap kurang mampu, ada pula yang tumbuh dengan rasa rendah diri karena berasal dari daerah yang jauh dari pusat.

Mungkin, perjalanan ke Seram bukan sekadar perjalanan akademik. Mungkin ini adalah kesempatan bagi saya untuk bertukar posisi dengan mahasiswa saya sendiri merasakan bagaimana rasanya menjadi orang yang datang dari tempat jauh, membawa identitas lokal, lalu mencoba dipahami di ruang akademik. Saya mulai melihat bahwa permintaan untuk datang itu bukan basa-basi. Ada pengetahuan yang memang tidak selesai di ruang kelas.

Ada hal-hal yang baru bisa dipahami ketika kita bersedia keluar dari zona nyaman dan hadir langsung di tengah komunitas yang selama ini hanya kita kenal sebagai ÔÇ£objek penelitianÔÇØ. Di titik itulah saya mulai memahami batas paling sederhana dari peran seorang guru. Kadang, guru tidak selalu harus menjadi pihak yang paling banyak menjelaskan. Ada saatnya guru perlu datang, mendengar, dan belajar langsung dari ruang hidup murid-muridnya.

Tentu saja keyakinan ini masih saya pertanyakan. Mungkin saya terlalu cepat menyimpulkan. Mungkin tidak semua pengetahuan bekerja dengan cara seperti itu. Mungkin pula tidak semua jarak harus ditempuh. Namun di tengah segala keraguan itu, kini saya berada di dalam pesawat yang akan membawa saya menuju Pulau SeramÔÇösebuah perjalanan untuk mengajar sekaligus belajar, memahami sekaligus dipahami.

Artikel terkait

Rekomendasi