Solar Kualitas Rendah Berisiko Turunkan Performa Mesin Diesel Modern

Solar Kualitas Rendah Berisiko Turunkan Performa Mesin Diesel Modern
Foto: Ilustrasi Solar Kualitas Rendah Berisiko Turunkan Performa Mesin Diesel Modern.

Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi memicu para pemilik kendaraan diesel untuk beralih ke bahan bakar yang lebih murah. Tren ini muncul setelah harga Dexlite melonjak menjadi Rp 23.600 per liter dari harga awal Rp 14.200 per liter.

Kenaikan signifikan juga terjadi pada Pertamina Dex yang kini dibanderol Rp 23.900 per liter, melompat dari harga sebelumnya Rp 14.500 per liter. Dilansir dari Otomotif, peralihan ke solar berkualitas rendah ini justru menyimpan risiko besar bagi keberlangsungan mesin diesel modern.

Jayan Sentanuhady, pakar otomotif dari Universitas Gadjah Mada (UGM), mengungkapkan bahwa performa optimal mesin diesel masa kini sangat bergantung pada mutu bahan bakar yang digunakan.

"Mesin diesel modern menuntut bahan bakar solar yang kualitasnya bagus juga untuk mendapatkan performa yang optimal dan biaya maintenance yang rendah," kata Jayan.

Menurut Jayan, penggunaan solar di bawah spesifikasi standar akan berdampak langsung pada kemampuan mesin dalam beroperasi. Penurunan tenaga yang dihasilkan bahkan dapat dirasakan secara nyata oleh pengemudi saat berkendara.

"Kalau di kasih solar kualitas rendah akan drop performance-nya mungkin sekitar 10 persen, tergantung kualitas solar yg dipakai," kata Jayan.

Dampak negatif lainnya tidak hanya terbatas pada masalah tenaga, tetapi juga menyasar pada aspek pemeliharaan kendaraan. Solar dengan kualitas rendah, terutama hasil pencampuran tertentu, diketahui meninggalkan sisa kotoran yang lebih banyak pada komponen mesin.

Jayan memberikan penjelasan bahwa bahan bakar hasil blending cenderung membuat sistem penyaringan bekerja lebih keras. Hal ini menyebabkan pemilik kendaraan harus lebih sering melakukan pengecekan dan penggantian suku cadang tertentu.

"Solar kualitas rendah (yang hasil blending dengan B100/FAME) biasanya memerlukan maintenance yang lebih sering, terutama terkait dengan sistem filter solar," kata Jayan.

Selain masalah penyumbatan, risiko pembentukan endapan atau gelling juga menjadi ancaman serius bagi sistem pembakaran. Karakteristik minyak nabati dalam campuran solar memiliki sifat yang berbeda dibandingkan solar murni.

"Solar hasil blending dengan minyak nabati memang harus sering di-maintenance, karena ada potensi gelling (pembentukan gel pada bahan bakar)," kata Jayan.

Kualitas bahan bakar yang tidak sesuai standar pada akhirnya akan memicu percepatan kerusakan komponen vital. Pengguna diesel modern disarankan tetap memprioritaskan kualitas solar guna menghindari biaya perbaikan yang jauh lebih mahal di masa depan.

Artikel terkait

Rekomendasi