Dokter spesialis bedah saraf mengingatkan kelompok individu yang hanya berolahraga pada akhir pekan atau weekend warrior memiliki risiko tinggi mengalami saraf kejepit dan cedera punggung pada Kamis (16/4/2026). Fenomena ini dipicu oleh beban latihan berat yang dipaksakan untuk mengganti kurangnya aktivitas fisik selama hari kerja.
Risiko masalah tulang belakang ini dinilai lebih rentan menyasar mereka yang tidak memiliki rutinitas fisik yang stabil. Sebagaimana dilansir dari Detik Health, kebiasaan melakukan olahraga berat secara mendadak tanpa kesiapan fisik dapat membahayakan struktur tubuh.
"Orang yang nggak pernah olahraga, terus sekalinya olahraga, itu lebih rentan terkena masalah di tulang belakangnya," kata dr Faisal M, SpBS, dokter bedah saraf dari RS Lamina Jakarta Selatan.
Peningkatan kekuatan otot melalui aktivitas rutin sangat dianjurkan untuk meringankan beban pada tulang belakang. Sebaliknya, benturan atau beban yang melampaui kapasitas tubuh dapat memicu aus pada bantalan tulang, termasuk bagi atlet profesional yang mengalami akumulasi cedera kecil.
"Jadi kalau ada benturan-benturan kecil tapi berulang, nah itu bisa berisiko," jelas dr Faisal.
Munculnya gejala awal masalah persarafan seringkali bersifat kronis dan tidak terjadi secara instan. Pasien diminta untuk tidak mengabaikan rasa tidak nyaman yang muncul setelah melakukan aktivitas fisik berat.
"Yang pertama nyeri pinggang. Ada nyeri, rasa nyerinya bisa di pinggang, atau menjalar ke bagian tubuh tertentu. Bisa ke pantat, ke paha, ke betis," jelasnya.
Gejala lain yang patut diwaspadai meliputi sensasi kesemutan pada area betis hingga telapak kaki. dr Faisal menyarankan pemeriksaan medis segera jika keluhan tersebut muncul dengan intensitas tinggi agar penanganan dapat dilakukan secara cepat dan tepat.