Dokter spesialis bedah saraf Rumah Sakit Lamina, dr. Mahdian Nur Nasution, Sp.BS, mengingatkan masyarakat untuk memahami kondisi tubuh dan teknik yang benar sebelum mengikuti tren olahraga viral guna menghindari risiko cedera tulang belakang serius pada Sabtu (1/5/2026).
Dilansir dari Detik Health, fenomena olahraga seperti lari maraton dadakan hingga kelas HIIT ekstrem berpotensi memicu saraf kejepit jika dilakukan tanpa persiapan matang. Ketidaksesuaian teknik dan pemaksaan kapasitas fisik menjadi faktor utama munculnya gangguan kesehatan tersebut.
"Banyak orang tergoda mengikuti tren tanpa memahami kondisi tubuh atau teknik yang benar. Akibatnya, bukannya semakin sehat, justru berujung pada saraf kejepit," kata dr. Mahdian, spesialis bedah saraf.
Mahdian menjelaskan bahwa jenis olahraga populer seperti latihan intensitas tinggi (HIIT) memberikan tekanan besar pada tulang belakang. Selain itu, olahraga kompetitif seperti basket atau futsal juga dapat memicu cedera akut bila dilakukan secara mendadak tanpa proses pemanasan.
"Pada dasarnya, bukan jenis olahraganya yang berbahaya, melainkan kesiapan tubuh, teknik, dan pengaturan intensitas yang sering diabaikan," jelas dr. Mahdian, spesialis bedah saraf.
Penyebab utama cedera ini adalah kondisi overtraining di mana tubuh dipaksa beradaptasi terlalu cepat tanpa waktu istirahat cukup. Banyak pelaku olahraga hanya meniru gerakan dari media sosial tanpa bimbingan profesional, sehingga postur tubuh saat berlatih menjadi tidak netral.
"Kurangnya pemanasan dan pendinginan juga membuat otot menjadi kaku, sehingga lebih rentan cedera," tutur dr. Mahdian, spesialis bedah saraf.
Gejala saraf kejepit yang perlu diwaspadai meliputi nyeri yang menjalar, kesemutan, hingga mati rasa pada area tertentu. Mahdian menegaskan bahwa mengabaikan sinyal rasa sakit dari tubuh dapat menyebabkan kondisi medis yang jauh lebih kronis di masa depan.
"Kondisi saraf kejepit biasanya ditandai dengan nyeri yang menjalar, kesemutan, mati rasa, hingga kelemahan otot, dan jika dibiarkan dapat berkembang menjadi lebih serius," ungkap dr. Mahdian, spesialis bedah saraf.
Sebagai langkah pencegahan, masyarakat disarankan untuk konsisten melakukan pemanasan dan pendinginan guna mempersiapkan sendi. Menjaga postur tubuh ideal selama beraktivitas sangat krusial dalam melindungi tulang belakang dari beban berlebih.
"Pemanasan dan pendinginan tidak boleh dilewatkan karena membantu mempersiapkan otot dan sendi sekaligus mengurangi risiko cedera," jelas dr. Mahdian, spesialis bedah saraf.
Dokter Mahdian juga menekankan pentingnya waktu pemulihan agar proses regenerasi tubuh berjalan optimal. Rasa nyeri saat berolahraga seharusnya dianggap sebagai peringatan untuk berhenti, bukan sebagai indikator kemajuan performa fisik.
"Yang tidak kalah penting, selalu peka terhadap sinyal tubuh, karena rasa nyeri bukan tanda kemajuan, melainkan peringatan untuk berhenti. Dengan pendekatan yang tepat, risiko saraf kejepit dapat minimalkan tanpa harus meninggalkan gaya hidup aktif," ungkap dr. Mahdian, spesialis bedah saraf.
Rumah Sakit Lamina kini menyediakan penanganan modern menggunakan teknologi Joimax dari Jerman untuk mengatasi masalah saraf kejepit. Metode minimal invasif ini hanya membutuhkan waktu tindakan sekitar 30 hingga 45 menit melalui satu titik kecil tanpa operasi besar.