Jenis golongan darah seseorang ternyata memiliki kaitan erat dengan tingkat risiko gangguan kesehatan serius, khususnya pada organ jantung. Dilansir dari Detik Health, pengelompokan darah tidak hanya krusial untuk urusan transfusi, tetapi juga menjadi indikator kerentanan terhadap stroke hingga gagal jantung.
Data dari American Heart Association menunjukkan bahwa individu dengan golongan darah A, B, atau AB memiliki probabilitas lebih tinggi mengalami serangan jantung. Sebaliknya, pemilik golongan darah O cenderung memiliki profil risiko yang lebih rendah dalam kategori penyakit kardiovaskular tersebut.
Sebuah studi yang dilakukan pada tahun 2020 mengungkapkan angka spesifik terkait kerentanan ini. Pemilik golongan darah A dan B tercatat memiliki risiko serangan jantung 8 persen lebih tinggi serta risiko gagal jantung yang meningkat hingga 10 persen dibandingkan golongan O.
Kondisi ini diperparah dengan ancaman gangguan pembekuan darah yang signifikan pada kelompok non-O. Kelompok golongan darah A dan B disebut 51 persen lebih mungkin mengalami trombosis vena dalam, serta memiliki risiko emboli paru 47 persen lebih tinggi.
Emboli paru dan trombosis merupakan masalah medis serius yang secara langsung dapat memicu terjadinya komplikasi gagal jantung jika tidak ditangani dengan tepat.
Penyebab Medis di Balik Kerentanan Jantung
Dr Douglas Guggenheim, seorang ahli hematologi dari Penn Medicine, memberikan penjelasan mengenai fenomena medis ini. Ia menduga adanya tingkat peradangan yang lebih tinggi pada tubuh individu dengan golongan darah A, B, atau AB.
Keberadaan protein tertentu pada golongan darah tersebut disinyalir memicu penyumbatan atau penebalan pada pembuluh darah vena maupun arteri. Proses ini kemudian bermuara pada meningkatnya risiko pembekuan darah yang menghambat sirkulasi ke jantung.
"Singkatnya, seolah-olah tubuh telah berevolusi di sekitar lingkungannya untuk melindunginya sebaik mungkin," kata Dr Guggenheim.
Karakteristik Spesifik Golongan Darah O dan AB
Meskipun golongan darah O dianggap lebih aman dari risiko penyakit jantung koroner, kelompok ini tetap memiliki kerentanan medis lainnya. Mereka dinilai lebih rentan mengalami perdarahan hebat atau gangguan pembekuan darah tertentu dalam situasi darurat.
Beberapa riset menyebutkan bahwa wanita dengan golongan darah O memiliki risiko kehilangan darah yang lebih tinggi pasca-persalinan. Selain itu, pada kasus cedera fisik yang berat, kehilangan darah dalam jumlah besar menjadi ancaman serius bagi pemilik golongan darah ini.
Di sisi lain, golongan darah AB juga dikaitkan dengan risiko kesehatan mental dan saraf. Penelitian menunjukkan pemilik golongan darah AB mungkin lebih rentan mengalami gangguan kognitif, seperti kesulitan fokus, gangguan memori, hingga kendala dalam pengambilan keputusan.
Peran Gaya Hidup dalam Menjaga Kesehatan
Walaupun faktor genetika seperti golongan darah berpengaruh, para pakar menekankan bahwa gaya hidup tetap menjadi variabel penentu utama. Kebiasaan merokok, tingkat stres, aktivitas fisik, hingga paparan polusi memiliki dampak yang lebih besar terhadap kesehatan jantung.
Dr Guggenheim menegaskan bahwa tidak ada protokol kesehatan khusus yang dibedakan hanya berdasarkan golongan darah seseorang. Menjalankan pola hidup sehat secara konsisten tetap menjadi rekomendasi medis paling utama bagi setiap individu.
"Pola makan seimbang dan menyehatkan jantung secara umum akan menjadi rekomendasi dokter mana pun, dan saya katakan bahwa golongan darah ABO tidak mengubah hal itu," ujar Guggenheim.
"Saya rasa tidak ada manfaat perlindungan hanya dengan memiliki golongan darah O yang berkontribusi untuk terhindar dari penyakit," tutur Guggenheim.