Konsumsi vitamin C yang melampaui ambang batas harian dilaporkan dapat memicu gangguan kesehatan serius pada sistem pencernaan dan ginjal, sebagaimana diperingatkan pada Jumat (17/4/2026). Meskipun nutrisi ini vital untuk daya tahan tubuh, penggunaan suplemen dosis tinggi secara terus-menerus membawa risiko efek samping sistemik.
Data medis menunjukkan bahwa kelebihan asupan vitamin C sering kali bermanifestasi dalam bentuk masalah pencernaan seperti mual, diare, kembung, hingga kram perut. Dampak ini muncul karena sifat asam dari vitamin C yang berpotensi mengiritasi saluran cerna jika dikonsumsi dalam jumlah yang tidak wajar.
Selain masalah pencernaan, risiko pembentukan batu ginjal menjadi perhatian utama para ahli kesehatan. Berdasarkan informasi yang dilansir dari Detik Health, tubuh memetabolisme sebagian vitamin C menjadi oksalat yang merupakan senyawa pemicu utama terbentuknya batu ginjal, terutama pada individu yang rutin mengonsumsi dosis tinggi.
Asupan berlebih juga berdampak negatif bagi penderita hemokromatosis karena vitamin C meningkatkan penyerapan zat besi dari makanan nabati secara signifikan. Hal ini dapat memperburuk penumpukan zat besi dalam tubuh yang berujung pada kerusakan jaringan permanen.
Kebutuhan harian bagi pria dewasa sebenarnya hanya sebesar 90 mg dan wanita sebesar 75 mg. Batas aman konsumsi (upper limit) ditetapkan pada angka 2.000 mg per hari untuk orang dewasa, sementara batas untuk remaja usia 14-18 tahun adalah 1.800 mg dan anak-anak usia 1-3 tahun hanya 400 mg.
Penyerapan vitamin C oleh tubuh justru akan mengalami penurunan efektivitas ketika dosis yang dikonsumsi berada di atas 500 mg. Karena sifatnya yang larut dalam air, sisa vitamin yang tidak terserap akan langsung dibuang melalui urine dan tidak disimpan di dalam tubuh.
Pemenuhan nutrisi ini sangat disarankan bersumber dari bahan alami seperti jeruk, paprika, brokoli, dan stroberi daripada mengandalkan suplemen. Para ahli menekankan pentingnya konsultasi dengan tenaga medis sebelum memulai penggunaan suplemen dosis tinggi untuk menghindari risiko kerusakan oksidatif.