Tren konsumsi kopi susu pada Sabtu, 18 April 2026, memicu persepsi masyarakat bahwa penggunaan gula aren jauh lebih sehat dibandingkan gula pasir. Namun, para ahli mengingatkan bahwa kedua jenis pemanis tersebut tetap memberikan dampak peningkatan kadar gula darah yang signifikan bagi tubuh.
Dilansir dari Detik Health, kebiasaan mengonsumsi gula aren sering kali tidak terkontrol karena label alami yang melekat pada produk tersebut. Meskipun diproses tanpa rafinasi, komposisi utama gula aren tetap didominasi oleh gula sederhana yang akan dipecah menjadi glukosa.
Data dari Kementerian Kesehatan melalui Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI) menunjukkan gula aren mengandung energi sebesar 368 kkal dan 91 gram karbohidrat per 100 gram. Angka ini tidak terpaut jauh dari gula pasir yang memiliki energi sekitar 364 hingga 387 kkal per 100 gram.
Gula aren memang memiliki kandungan mikronutrien seperti kalsium sebesar 75 mg, fosfor 35 mg, dan zat besi 3 mg. Namun, jumlah tersebut dinilai sangat kecil dan tidak memberikan manfaat kesehatan yang signifikan jika dikonsumsi dalam batas wajar satu sampai dua sendok makan.
Terkait pengaruhnya terhadap insulin, Sydney University Glycemic Index Research Service mencatat indeks glikemik (IG) gula pasir berada di level 65 atau kategori sedang. Sementara itu, gula berbasis palma seperti gula aren memiliki nilai IG yang bervariasi antara 35 hingga 54 tergantung pada proses pengolahannya.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberikan penekanan terkait pembatasan seluruh jenis asupan gula tambahan tanpa membedakan sumber asalnya. Anjuran asupan gula harian ditetapkan tidak melebihi 10 persen dari total energi, bahkan lebih baik jika ditekan hingga di bawah 5 persen.
"lebih sehat" ujar narasumber, menggambarkan persepsi publik terhadap gula aren.
Narasi mengenai keamanan konsumsi gula aren kerap kali muncul akibat citra produk yang dianggap lebih tradisional dibandingkan gula tebu hasil pabrikasi.
"lebih aman" kata narasumber, menjelaskan alasan banyak orang meningkatkan jumlah konsumsi mereka.
Selain jumlah, frekuensi konsumsi juga menjadi faktor kunci dalam menjaga kesehatan metabolisme. Masyarakat disarankan untuk tetap waspada terhadap gula tersembunyi yang terdapat dalam produk kemasan seperti saus, kecap, dan yogurt berperisa.