Dendam Berisiko Merusak Kesehatan Mental dan Fisik Secara Perlahan

Dendam Berisiko Merusak Kesehatan Mental dan Fisik Secara Perlahan
Foto: Ilustrasi Dendam Berisiko Merusak Kesehatan Mental dan Fisik Secara Perlahan.

Menyimpan amarah dan kebencian yang berlarut-larut dinilai dapat merusak kesehatan fisik serta mental seseorang secara perlahan sebagaimana dilansir dari Lifestyle pada Rabu, 29 April 2026. Kondisi psikologis ini umumnya muncul sebagai bentuk pertahanan diri terhadap berbagai ancaman emosional maupun sosial di lingkungan sekitar.

Psikolog klinis Charlynn Ruan menjelaskan bahwa tubuh manusia secara alami berusaha memberikan perlindungan dari potensi serangan melalui mekanisme kewaspadaan. Namun, respon yang berlebihan ini justru dapat berdampak buruk jika digeneralisasikan kepada orang lain dalam jangka panjang.

"Tubuh mencoba melindungimu dari kemungkinan serangan atau ancaman lain," kata Charlynn Ruan, PhD, psikolog klinis dan pendiri Thrive Psychology Group.

Penjelasan tersebut merujuk pada bagaimana sistem pertahanan tubuh bekerja di luar kesadaran saat seseorang teringat pada pengkhianatan. Ruan menambahkan bahwa kondisi waspada yang menetap akan memengaruhi cara otak memproses informasi di sekitar individu tersebut.

"Sayangnya, kewaspadaan berlebihan yang terus-menerus ini cenderung digeneralisasi ke orang lain," tambah Charlynn Ruan, PhD.

Dampak dari sikap bertahan ini membuat otak cenderung menyaring hal-hal positif dan justru membesarkan persepsi terhadap ancaman. Ruan menekankan bahwa emosi negatif seperti ketakutan atau kemarahan akan menciptakan memori yang sangat kuat dalam ingatan manusia.

"Ketika kamu bersiap untuk bertahan, otakmu menyaring informasi positif dan cenderung melebih-lebihkan bahaya, ancaman, dan niat negatif," ucap Charlynn Ruan, PhD.

Memori yang terkait dengan emosi intens sering kali lebih sulit dilupakan dibandingkan kenangan manis. Hal ini berkaitan dengan tumpukan emosi yang tidak terkelola dengan baik selama masa terjadinya konflik atau kekecewaan.

"Ingatan yang sangat emosional, terutama yang dipasangkan dengan emosi negatif seperti kemarahan, kesedihan, atau ketakutan, sering kali disimpan di otak kita sebagai ingatan yang paling kuat," papar Charlynn Ruan, PhD.

Masalah kesehatan muncul ketika tubuh berada dalam keadaan waspada terus-menerus yang menghabiskan banyak energi. Ruan menyoroti bahwa banyak orang terjebak dalam dendam karena perasaan tersebut telah menyatu dengan identitas diri mereka.

"Kita mungkin memiliki sejumlah besar emosi yang belum diproses, atau diproses dengan buruk yang terkait dengan dendam," sambung Charlynn Ruan, PhD.

Gejala fisik seperti gangguan pencernaan dan kelelahan kronis menjadi tanda nyata saat amarah mulai mengganggu fungsi tubuh. Untuk mengatasinya, Ruan menyarankan penyaluran emosi secara fisik, terutama bagi kelompok yang memiliki saluran pelepasan amarah terbatas.

"Wanita, khususnya, tidak memiliki banyak saluran untuk melepaskan amarah dan kebencian dengan cara fisik," ujar Charlynn Ruan, PhD.

Langkah selanjutnya dalam pemulihan adalah memahami batasan kendali terhadap perilaku orang lain yang mungkin tidak akan pernah meminta maaf. Fokus pada hal-hal yang bisa diubah oleh diri sendiri menjadi kunci utama dalam melepas beban emosional tersebut.

"Kendalikan apa yang bisa kamu kendalikan," saran Charlynn Ruan, PhD.

Ruan menyimpulkan bahwa menghadapi rasa sakit dan menjadikannya sarana pertumbuhan jauh lebih efektif daripada sekadar menghindarinya. Menghindari kesulitan justru dianggap dapat membatasi hal-hal baik yang masuk ke dalam kehidupan seseorang.

"Mencoba menghindari hal-hal yang sulit hanya membatasi jumlah kebaikan yang kita biarkan masuk, tapi tidak benar-benar melindungi kita dari keburukan," kata Charlynn Ruan, PhD.

Individu yang mampu mengolah rasa sakit menjadi kekuatan cenderung memiliki hubungan sosial yang lebih dalam. Proses penyembuhan ini pada akhirnya akan membawa rasa syukur dan pertumbuhan pribadi yang signifikan.

"Orang-orang yang memiliki kehidupan yang indah, bermakna, dan kuat adalah mereka yang belajar menggunakan rasa sakit mereka untuk pertumbuhan, penyembuhan, rasa syukur, dan koneksi yang lebih dalam," tutup Charlynn Ruan, PhD.

Artikel terkait

Rekomendasi