Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyanggah penilaian bahwa pencapaian pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen pada kuartal I 2026 merupakan dampak dari angka pembanding yang rendah pada tahun sebelumnya. Pernyataan tersebut disampaikan dalam media briefing di Kantor Kementerian Keuangan, Senin (11/5/2026).
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan angka pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang berada di level 4,87 persen, sebagaimana dilansir dari Money. Pemerintah mengeklaim capaian ini dipicu oleh percepatan belanja negara dan pengelolaan likuiditas yang tepat sejak awal tahun.
Menteri Keuangan menekankan bahwa jika dilihat secara tahunan, fluktuasi musiman seharusnya tidak lagi menjadi faktor penentu utama. Percepatan ini dinilai sebagai kelanjutan dari momentum positif yang telah terbangun sejak akhir tahun lalu.
ÔÇ£Kalau kita lihat year on year, musimannya harusnya hampir hilang. Jadi bukan sekadar low base. Yang jelas pertumbuhannya lebih cepat dan ini melanjutkan pertumbuhan yang juga lebih cepat pada triwulan IV tahun lalu,ÔÇØ kata Purbaya dalam media briefing di Kementerian Keuangan, Senin (11/5/2026).
Terkait pergeseran waktu Ramadan dan Idulfitri yang lebih awal 16 hari dibandingkan tahun 2025, Purbaya meyakini dampaknya tidak dominan dalam perhitungan tahunan. Ia menyatakan bahwa fokus utama pemerintah adalah menjaga agar tren kenaikan ini tetap stabil.
ÔÇ£Kalau Anda lihat, trennya clear naik. Itu yang kita jaga dan akan terus kita dorong supaya berlangsung ke depan,ÔÇØ katanya.
Merespons kritik dari kalangan ekonom mengenai kualitas pertumbuhan di tiga bulan pertama tahun ini, Purbaya menganggap penilaian tersebut kurang komprehensif. Ia menyoroti bahwa kebijakan fiskal telah dirancang untuk bergerak proaktif menghadapi situasi ekonomi.
ÔÇ£Jadi kalau angka jelek ribut, angka tinggi ribut juga,ÔÇØ ujarnya.
Strategi pemerintah melibatkan percepatan pembayaran subsidi pupuk serta penyelesaian kewajiban kepada PT Pertamina (Persero). Hal ini bertujuan agar sektor swasta mendapatkan stimulus untuk tetap berekspansi di tengah ketidakpastian pasar global.
ÔÇ£Saya jaga likuiditas supaya private sector bisa bergerak. Saya dorong belanja pemerintah di triwulan pertama dipercepat sehingga daya dorong ekonomi lebih merata sepanjang tahun,ÔÇØ jelasnya.
Perputaran arus kas yang lebih cepat dari kas negara ke perusahaan pelat merah diklaim memberikan efek domino hingga ke level subkontraktor. Kelancaran pembayaran ini menjadi mesin penggerak aktivitas ekonomi di lapangan.
ÔÇ£Tahun lalu Pertamina punya uang cukup enggak? Enggak. Jadi kalau Pertamina dibayar tepat waktu, seluruh subkontraktor juga akan dibayar tepat waktu. Itu memutarkan ekonomi juga,ÔÇØ katanya.