Puluhan Kapal Tanker Lintasi Selat Hormuz Saat Jalur Kembali Ditutup

Puluhan Kapal Tanker Lintasi Selat Hormuz Saat Jalur Kembali Ditutup
Foto: Ilustrasi Puluhan Kapal Tanker Lintasi Selat Hormuz Saat Jalur Kembali Ditutup.

Lebih dari 20 unit kapal terpantau melintasi Selat Hormuz pada Sabtu (19/4/2026) di tengah pengumuman pembukaan jalur strategis tersebut oleh pemerintah Iran. Data perusahaan analitik pelayaran Kpler menunjukkan volume lalu lintas ini merupakan yang tertinggi sejak awal Maret 2026, dengan satu kapal tanker dilaporkan menuju Indonesia.

Aktivitas pelayaran ini terjadi sesaat sebelum jalur tersebut kembali ditutup pada Minggu (19/4/2026) akibat eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Dilansir dari Money, penutupan dipicu oleh tindakan Washington yang tetap melanjutkan blokade terhadap armada yang keluar dan masuk dari pelabuhan-pelabuhan Iran.

Berdasarkan laporan Reuters pada Senin (20/4/2026), lima kapal yang melintas membawa kargo dari Iran berupa produk minyak dan logam. Tiga kapal lainnya mengangkut liquefied petroleum gas (LPG) dengan destinasi China dan India, sementara kapal Crave berbendera Panama membawa LPG dari Uni Emirat Arab menuju Indonesia.

Distribusi komoditas energi lainnya juga tercatat melalui kapal Akti A dan Athina yang membawa olahan minyak Bahrain menuju Mozambik serta Thailand. Selain itu, kapal Navig8 Macallister mengangkut 500.000 barrel nafta ke Korea Selatan, dan kapal VLCC Fpmc C Lord membawa 2 juta barrel minyak mentah Arab Saudi menuju Taiwan.

Lalu lintas di jalur air ini juga mencakup kapal Desh Garima yang mengangkut 780.000 barrel minyak mentah ke Sri Lanka. Kapal Ruby tercatat membawa pupuk menuju Uni Emirat Arab, serta kapal Merry M yang mengangkut petroleum coke dari Arab Saudi untuk dikirim ke Ravenna, Italia.

Pemerintah Iran melalui siaran televisi resmi yang dikutip AFP menyatakan bahwa pengawasan ketat terhadap navigasi di wilayah tersebut akan terus dilakukan. Hal ini menjadi respons atas kebijakan blokade yang diterapkan oleh Amerika Serikat terhadap akses maritim Iran.

"Situasi di Selat Hormuz akan tetap dikendalikan secara ketat," demikian isi pernyataan tersebut, dikutip dari Al Jazeera.

Komando militer gabungan Garda Revolusi Iran (IRGC) menegaskan bahwa kendali penuh atas jalur strategis itu telah dikembalikan ke status semula. IRIB melaporkan bahwa pihak Iran menuding Amerika Serikat melakukan tindakan ilegal berupa pembajakan dan pencurian dengan kedok blokade pelabuhan.

"Jalur air strategis ini sekarang berada di bawah pengelolaan dan pengawasan ketat oleh angkatan bersenjata," kata IRGC.

Otoritas militer Iran menekankan bahwa normalisasi kebebasan navigasi bagi seluruh kapal sangat bergantung pada perubahan sikap politik dan militer Amerika Serikat di kawasan tersebut. Pengawasan ini diklaim sebagai langkah perlindungan terhadap kedaulatan wilayah perairan mereka.

"Status Selat Hormuz tetap dikendalikan secara ketat dan dalam kondisi semula, sampai Amerika Serikat memulihkan kebebasan navigasi bagi kapal-kapal," lanjutnya.

Artikel terkait

Rekomendasi