Psikolog anak, remaja, dan keluarga, Sani Budiantini Hermawan, memberikan penekanan khusus pada pentingnya pendampingan profesional guna membantu individu melewati masa berduka secara sehat pada Sabtu (2/4/2026). Dilansir dari Lifestyle, proses kehilangan yang tidak menentu memerlukan pemahaman mendalam tanpa adanya standar baku atau perbandingan antarindividu.
Pengalaman emosional saat kehilangan seseorang sering kali melibatkan perasaan kompleks yang tidak terprediksi, mulai dari kesedihan mendalam hingga kemarahan yang muncul secara bersamaan. Sani menjelaskan bahwa setiap orang memiliki ritme unik dalam memproses batin mereka sendiri setelah mengalami duka.
Langkah pendampingan oleh tenaga ahli seperti psikolog dinilai sangat bijak terutama jika kehilangan terjadi secara mendadak. Upaya ini bertujuan mencegah dampak emosional jangka panjang yang lebih berat, seperti stres berkepanjangan atau kesulitan untuk menerima kenyataan yang ada.
Terdapat tahapan-tahapan psikologis tertentu yang umumnya dilalui seseorang sebelum mencapai tahap penerimaan akhir atas kehilangan yang dialami. Hal ini merupakan bagian dari perjalanan emosional yang bersifat alami bagi setiap manusia.
"Ada beberapa tahapan yang mungkin harus kita lewati dulu sebelum akhirnya kita benar-benar menerima proses kedukaan atau kehilangan yang memang sedang terjadi sama kita," ujar Sani Budiantini Hermawan, Psikolog anak, remaja, dan keluarga.
Sani juga mengingatkan adanya efek tertunda atau delay effect, di mana kesedihan kuat baru muncul jauh setelah peristiwa kehilangan terjadi. Lingkungan sekitar diminta untuk memberikan empati yang tepat melalui kesediaan mendengarkan tanpa menghakimi atau memberi label negatif pada kondisi emosional seseorang.
Sikap menghargai proses berduka sebagai ekspresi manusiawi dapat membantu pemulihan secara optimal dibandingkan dengan memberikan penilaian kurang kuat atau berlebihan. Mengenali validitas setiap emosi yang muncul menjadi kunci utama dalam menemukan kedamaian di tengah rasa kehilangan.