Tantangan besar terkait inflasi medis masih membayangi industri asuransi kesehatan pada tahun 2026. Kondisi ini menuntut langkah strategis dari para pelaku industri untuk menjaga keberlanjutan layanan.
Chief Health Officer Prudential Indonesia Yosie William Iroth mengungkapkan, inflasi medis di tahun ini masih menjadi tantangan serius bagi industri asuransi kesehatan, seperti dilansir dari Investortrust.
Namun menurutnya, inflasi medis tidak bisa semata-mata dimaknai sebagai kenaikan biaya perawatan semata, melainkan meningkatnya total pengeluaran layanan kesehatan (health care spending).
"Karena semakin banyak yang sakit, terus memang karena ada teknologi-teknologi baru. Ini awal tahun sudah mulai ada new generation diabetes drugs yang baru lah, dan tentu itu untuk output yang lebih baik," ujar Yosie.
Menurutnya, kondisi inflasi medis tak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga dialami sejumlah negara lain seperti Singapura, Malaysia, hingga Hong Kong. Sehingga, industri asuransi bersama regulator perlu untuk terus berupaya agar inflasi medis dapat ditekan mendekati tingkat inflasi umum.
"Ini target kita bersama, harapan dari OJK, semuanya adalah harapannya bisa ditekan mendekati general inflation. Sekarang kan masih dua atau tiga kali, dan itu bukan cuman di Indonesia," kata Yosie.
Langkah antisipasi telah disiapkan melalui studi internal serta pemanfaatan kajian reasuransi regional guna memetakan tren kenaikan biaya medis. Prudential Indonesia menerapkan mekanisme jaringan tertutup untuk menahan laju pengeluaran faskes.
"Cara kita mengendalikan adalah kita dekat dengan rumah sakit, kita negosiasi sama rumah sakit. Kita bilang kalau kerja sama dengan Prudential ada kualitas yang harus dijaga, ada tarif yang harus dijaga," ucap Yosie.
Upaya negosiasi tarif ini ditujukan agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat melalui pengelolaan premi yang lebih stabil.
"Supaya nanti kalau kita ada fenomena repricing, akan naikan premi, sehingga nanti kenaikan premi itu bisa kita redam bersama-sama. Harapannya, produk kita jangka panjang, kita harus sustainable, kita harus pikirkan kemampuan membeli, membayar dari masyarakat juga harus kita perhatikan," ujar Yosie.
Evaluasi Rutin Jaringan Rumah Sakit Rekanan
Pengawasan ketat juga diwujudkan lewat peninjauan berkala terhadap kepatuhan tarif dan kualitas operasional dari mitra kesehatan yang bekerja sama.
"Kita lihat, bagaimana mereka punya kualitas layanan, ketaatan mereka terhadap tarif, layanan mereka bagaimana, kita review bersama-sama secara reguler," kata Yosie.
Evaluasi ini menyasar faskes individual maupun jaringan rumah sakit besar seperti Siloam Hospitals dan Mayapada Hospital agar pengawasan berjalan efektif.
Komunikasi terbuka mengenai penyesuaian tarif akibat investasi teknologi medis dari pihak rumah sakit tetap diakomodasi dengan mempertimbangkan kemampuan finansial nasabah.
"Kita tidak mau cekik rumah sakit, harus sama-sama bisa survive, rumah sakit ada aspirasi supaya sustain, jangka panjangnya kita juga ada. Tapi kita selalu katakan, masyarakat atau customer bagaimana. Jangan sampai sama-sama mau menjaga kepentingan, tapi nanti nasabahnya dikorbankan," ucap Yosie.