Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksikan harga batu bara acuan (HBA) akan mengalami penurunan signifikan hingga menyentuh kisaran US$ 95-100 per ton pada tahun 2026. Kepastian target angka tersebut disampaikan dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR di Jakarta pada Senin (8/12/2025).
Tren penurunan ini terlihat dari perbandingan proyeksi tahun sebelumnya, di mana dilansir dari Investortrust, harga komoditas ini diperkirakan masih berada pada level yang lebih tinggi sebelum jatuh ke titik terendah dalam beberapa tahun terakhir.
ÔÇ£Pada 2025, HBA diperkirakan berada di kisaran US$ 111 per tahun. Jauh lebih rendah dibandingkan periode puncaknya,ÔÇØ kata Purbaya, saat di Komisi XI, DPR, Jakarta, Senin (8/12/2025).
Penurunan harga global tersebut mendorong pemerintah untuk merumuskan ulang strategi perdagangan internasional guna mengantisipasi rendahnya nilai tambah dari ekspor bahan mentah. Sebagai produsen batu bara terbesar ketiga di dunia, Indonesia dinilai masih kehilangan potensi ekonomi yang besar akibat ketergantungan pada penjualan komoditas mentah.
ÔÇ£Untuk itu, instrumen bea keluar disiapkan guna meningkatkan penerimaan negara sekaligus mendorong hilirisasi dan dekarbonisasi yang saat ini mekanismenya sudang kami finalisasi bersama kementerian terkait,ÔÇØ kata dia.
Selain kebijakan fiskal, pemerintah menegaskan bahwa peran batu bara tetap krusial dalam menjaga stabilitas energi dalam negeri. Pemerintah berupaya menyeimbangkan antara kebutuhan listrik industri dan masyarakat dengan komitmen transisi energi hijau yang tidak mengganggu keamanan pasokan nasional.
ÔÇ£Pendekatan ini sangat penting agar upaya penurunan emisi tetap berjalan tetapi tidak mengganggu ketahanan energi nasional,ÔÇØ jelas dia.
Potensi batu bara ke depan akan diarahkan pada pengembangan produk turunan bernilai tambah tinggi, mengikuti jejak negara konsumen besar seperti India dan China. Purbaya menekankan bahwa hilirisasi menjadi kunci agar komoditas ini tidak sekadar menjadi sumber energi primer.