Sektor komoditas Indonesia dinilai sejumlah lembaga pemeringkat masih memiliki prospek positif di tengah ketidakpastian geopolitik global serta pelemahan nilai tukar rupiah pada Kamis, 21 Mei 2026. Namun, industri berbasis energi dan sektor hilir diproyeksikan mengalami tekanan struktural selama beberapa tahun ke depan.
Prospek cerah ini diperkirakan terjadi pada komoditas hulu minyak dan gas, emas, serta crude palm oil (CPO). Berdasarkan informasi yang dilansir dari Investor Daily, penguatan pendapatan berpotensi dialami oleh perusahaan dengan arus kas berbasis dolar AS akibat depresiasi rupiah.
Kondisi geopolitik global yang memicu lonjakan harga komoditas menjadi pendorong positif bagi sektor-sektor tersebut. Di sisi lain, fluktuasi permintaan industri global, keterbatasan bahan baku, dan kenaikan biaya energi membayangi sektor petrokimia serta hilir logam.
Dampak yang relatif netral diperkirakan bakal dialami oleh sektor telekomunikasi, barang konsumsi pokok, nikel, dan batu bara. Kepala Divisi Pemeringkatan Non-Jasa Keuangan-1 Pefindo, Martin Pandiangan, menjelaskan dinamika global saat ini menguntungkan sejumlah sektor komoditas utama.
"Kami memproyeksikan sektor komoditas seperti CPO, hulu migas, dan emas akan diuntungkan dari dinamika geopolitik dan depresiasi rupiah, terutama karena keseimbangan permintaan-penawaran dan arus kas dalam denominasi dolar AS," ujar Martin Pandiangan, Kepala Divisi Pemeringkatan Non-Jasa Keuangan-1 Pefindo.
Langkah integrasi hilirisasi beserta efisiensi operasional kini mulai menjadi fokus beberapa badan usaha milik negara (BUMN). Martin Pandiangan menilai strategi itu dapat memperkuat ketahanan bisnis serta meningkatkan daya saing perusahaan, meski ada risiko yang perlu diantisipasi.
"Namun, kami juga mengantisipasi risiko keuangan dan struktural, khususnya terkait peningkatan leverage dari belanja modal yang didanai utang dan kelayakan ekonomi proyek-proyek kompleks," kata Martin Pandiangan, Kepala Divisi Pemeringkatan Non-Jasa Keuangan-1 Pefindo.
Manfaat dari kenaikan harga logam dan hidrokarbon di pasar internasional juga disebut turut diperoleh sektor komoditas Indonesia. Associate Director Corporate Ratings S&P Global Ratings, Ker Liang Chan, menilai lonjakan harga tersebut membawa dampak tertentu bagi pengeluaran perusahaan.
"Kenaikan harga ini kemungkinan akan mengimbangi potensi kenaikan biaya," kata Ker Liang Chan, Associate Director Corporate Ratings S&P Global Ratings.
Kendati demikian, industri komoditas nasional seperti sektor pertambangan, logam, dan minyak sawit masih dibayangi risiko regulasi serta kebijakan. Pelaku usaha berskala kecil berpotensi tertekan oleh kebijakan pengetatan kuota produksi untuk komoditas batu bara termal dan nikel.
Minat investasi juga dapat terpengaruh oleh pemberantasan tambang ilegal serta penegakan hukum lingkungan di tengah ketidakpastian global. S&P Global Ratings melihat situasi pendanaan domestik di Indonesia masih kuat menopang korporasi, sehingga mayoritas perusahaan mampu menghadapi depresiasi rupiah secara moderat.
"Ini mencerminkan pergeseran menuju pendanaan domestik dalam beberapa tahun terakhir, yang mengurangi ketergantungan pada utang valuta asing dan meningkatkan ketahanan terhadap guncangan eksternal," jelas Ker Liang Chan, Associate Director Corporate Ratings S&P Global Ratings.