Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan total produksi padi nasional sepanjang tahun 2025 mencapai 60,37 juta ton gabah kering giling (GKG), mengalami kenaikan sebesar 13,61 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan ini didorong oleh perluasan area panen meskipun risiko kegagalan akibat faktor alam masih mengancam wilayah sentra produksi.
Data yang dilansir dari Investortrust menunjukkan luas panen padi hingga Desember 2025 diperkirakan menyentuh angka 11,36 juta hektare, atau bertambah 1,31 juta hektare secara tahunan. Khusus pada Oktober 2025, luas panen tercatat sebesar 0,86 juta hektare dengan hasil produksi mencapai 4,72 juta ton GKG.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini memberikan penjelasan mengenai pemutakhiran data potensi panen yang mengalami penyesuaian dari rilis sebelumnya. Ketidakstabilan kondisi tanaman di lapangan menjadi faktor utama terjadinya koreksi data tersebut.
"Secara umum, koreksi disebabkan oleh perkembangan terkini dari kondisi pertanaman padi di lapangan seperti adanya potensi gagal panen, waktu realisasi panen petani, serta adanya serangan hama OPT (organisme pengganggu Tanaman) dan lain sebagainya," kata Pudji di Kantor Pusat BPS, Senin (1/12/2025).
Pudji menambahkan bahwa faktor eksternal berupa bencana alam turut menjadi pemicu ancaman gagal panen, terutama di wilayah Sumatra. Banjir dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada akhir November 2025 berpotensi menurunkan produktivitas lahan akibat genangan air.
"Saya akan menekankan kembali bahwa angka potensi dan angka sementara luas panen dan produksi padi yang dirilis bulan sebelumnya ini akan terkoreksi oleh amatan terkini dari survei KSA dan survei Ubinan," kata Pudji.
BPS mengidentifikasi wilayah Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah sebagai sentra dengan potensi panen terbesar untuk periode November 2025 hingga Januari 2026. Sejumlah kabupaten seperti Subang, Indramayu, Karawang, Demak, Ngawi, hingga Aceh Utara tetap menjadi penyumbang utama produksi nasional di tengah tantangan cuaca.
Peningkatan produksi gabah tersebut juga berdampak linear pada ketersediaan beras untuk konsumsi masyarakat yang diproyeksikan mencapai 34,79 juta ton sepanjang 2025. Lonjakan produksi paling signifikan terjadi pada caturwulan pertama tahun 2025 yang mencatatkan pertumbuhan hingga 26,57 persen.