Produksi Kayu Lapis Nasional Merosot 30 Persen pada Awal 2026

Produksi Kayu Lapis Nasional Merosot 30 Persen pada Awal 2026
Foto: Ilustrasi Produksi Kayu Lapis Nasional Merosot 30 Persen pada Awal 2026.

Sektor industri kayu lapis nasional mencatatkan penurunan produksi hingga 30 persen pada kuartal I/2026 akibat lonjakan harga bahan baku dan pembengkakan biaya energi. Fenomena ini dilaporkan telah menekan kinerja manufaktur di berbagai wilayah utama Indonesia pada awal tahun ini.

Data Asosiasi Panel Kayu Indonesia (Apkindo) menunjukkan produksi kayu bulat dari hutan alam pada periode tersebut diperkirakan hanya menyentuh angka 2 juta meter kubik. Angka ini menunjukkan kemerosotan signifikan dibandingkan capaian pada periode yang sama tahun sebelumnya, sebagaimana dilansir dari Ekonomi.

"Sumatera mengalami penurunan paling dalam, diikuti Kalimantan, Jawa-Bali, hingga kawasan Indonesia Timur," kutip keterangan resmi Apkindo pada Sabtu (2/5/2026).

Pihak asosiasi menjelaskan bahwa ketersediaan bahan baku terganggu oleh pencabutan sejumlah izin usaha pemanfaatan hutan (HPH). Kelangkaan pasokan ini memicu kenaikan harga log meranti menjadi Rp2,5 juta hingga Rp2,6 juta per meter kubik di pelabuhan, sementara di Pulau Jawa harga menembus Rp4 juta per meter kubik.

"Kondisi ini menempatkan industri pada posisi yang tidak menguntungkan, karena harus menghadapi kombinasi antara keterbatasan pasokan dan kenaikan harga bahan baku secara bersamaan," tulis Apkindo.

Data performa bulanan memperlihatkan kontraksi yang lebih tajam pada Maret 2026, di mana produksi kayu lapis hanya mencapai 158.000 meter kubik. Jumlah tersebut merosot 31 persen dibanding Februari 2026, atau anjlok 40 persen jika dibandingkan secara tahunan.

Krisis ini diperparah oleh kenaikan harga BBM industri sebesar 100 persen sejak Maret 2026 akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Beban biaya operasional, mulai dari penebangan hingga transportasi dan bahan penunjang seperti lem, tercatat ikut melambung tinggi.

"Kombinasi ini menciptakan tekanan yang signifikan terhadap profitabilitas industri," sebut Apkindo.

Situasi ini memaksa pelaku usaha menghadapi pilihan sulit antara menaikkan harga jual di tengah pelemahan permintaan global atau kehilangan margin keuntungan. Tekanan biaya produksi yang masif tersebut kini mengancam daya saing produk kayu lapis Indonesia di pasar internasional.

Artikel terkait

Rekomendasi