Produksi beras nasional periode Januari hingga Juni 2026 diprediksi mencapai 19,31 juta ton atau mengalami kenaikan sebesar 0,05 juta ton dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. Capaian ini memperkuat tren positif ketahanan pangan domestik setelah pemerintah mencatatkan rekor tanpa impor beras sepanjang tahun 2025.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dilansir dari Money menunjukkan bahwa penguatan produksi ini terjadi meski terdapat dinamika pada awal tahun. Pada Maret 2026, produksi bulanan sempat terkoreksi 3,67 persen menjadi 5,04 juta ton akibat penurunan luas panen padi menjadi 1,61 juta hektare.
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman menjelaskan bahwa keberhasilan menekan angka impor telah memberikan pengaruh signifikan terhadap stabilitas harga pangan di tingkat global pada Senin (4/5/2026).
"Dulu saat Indonesia masih impor beras hingga sekitar 7 juta ton, harga pangan dunia bisa mencapai sekitar 660 dollar AS per ton. Ketika kita berhasil memperkuat produksi dalam negeri dan menekan impor secara signifikan, harga dunia ikut turun, bahkan sempat berada di kisaran 340 dollar AS per ton," ujar Amran, Kepala Bapanas.
Pemerintah melaporkan cadangan pangan saat ini berada dalam kondisi sangat kuat dengan total stok beras mencapai 5,12 juta ton. Angka ini diklaim sebagai volume tertinggi dalam sejarah berdirinya Republik Indonesia, melampaui catatan stok tahun 1984 yang berada di angka 2,6 juta ton.
"Stok beras kita saat ini mencapai sekitar 5,12 juta ton. Ini tertinggi selama Republik Indonesia berdiri. Sebelumnya, pada tahun 1984 stok pernah berada di angka sekitar 2,6 juta ton," kata Amran, Kepala Bapanas.
Dari sisi hulu, produksi padi dalam bentuk Gabah Kering Panen (GKP) selama semester pertama 2026 diperkirakan menyentuh 40,08 juta ton. Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat tetap menjadi provinsi penyumbang produksi tertinggi, sementara wilayah timur seperti Papua Pegunungan tercatat memiliki produksi terendah.
Kesejahteraan petani juga menunjukkan tren positif yang ditandai dengan Nilai Tukar Petani (NTP) yang konsisten berada di atas angka 120 sejak Juli 2024. Pada Maret 2026, indeks harga yang diterima petani padi bahkan mencapai 144,52 poin.
"Keberhasilan sektor pangan tidak hanya diukur dari produksi yang meningkat, tetapi juga dari kesejahteraan petani yang semakin baik serta kontribusi Indonesia terhadap stabilitas pangan dunia," tutur Amran, Kepala Bapanas.
Penurunan impor Indonesia sebesar 3,8 juta ton pada 2025 menurut laporan Rice Outlook USDA memberikan tekanan pada negara eksportir. Thailand misalnya, mencatatkan penurunan ekspor sebesar 17,5 persen pada Januari 2026 karena berkurangnya permintaan global dan penguatan mata uang lokal mereka.
Amran menegaskan bahwa strategi penguatan pangan nasional ini dirancang untuk memberikan dampak jangka panjang bagi posisi Indonesia di mata internasional.
"Ketahanan pangan yang kita bangun hari ini bukan hanya untuk Indonesia, tetapi juga memberi dampak bagi dunia," katanya Amran, Kepala Bapanas.
Pemerintah kini fokus menjaga keberlanjutan swasembada dengan menargetkan produksi tahunan 2026 melampaui total kebutuhan konsumsi nasional sebesar 31,16 juta ton. Langkah ini dilakukan melalui optimalisasi produktivitas dan perluasan luas tanam di berbagai wilayah sentra padi.