Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung mengintervensi ketegangan industrial di Samsung Electronics pada Senin (18/5/2026) demi menjaga stabilitas negara jelang rencana aksi mogok kerja massal selama 18 hari.
Langkah ini diambil setelah negosiasi mengenai sistem bonus berbasis kinerja antara manajemen perusahaan dan serikat pekerja belum mencapai titik temu, seperti dilansir dari Investor Daily.
Pemerintah setempat mengkhawatirkan dampak pemogokan yang dijadwalkan mulai Kamis (21/5/2026) mendatang karena Samsung menguasai 22,8% ekspor negara, 26% kapitalisasi pasar, dan 12,5% Produk Domestik Bruto Korea Selatan.
Aksi ini dipicu oleh tuntutan serikat pekerja yang menginginkan alokasi bonus tahunan sebesar 15% dari total laba operasional dan penghapusan batas maksimal pembayaran, sedangkan manajemen hanya menawarkan 10% ditambah kompensasi khusus.
Di tengah situasi memanas tersebut, saham Samsung Electronics di bursa Seoul sempat melonjak hingga 6,65% pada perdagangan Senin pagi sebelum akhirnya ditutup menguat di kisaran 3%.
"Tenaga kerja harus dihormati sama besarnya dengan bisnis, dan hak manajemen perusahaan juga harus dihormati sama besarnya dengan hak-hak pekerja. Sesuatu yang berlebihan itu tidak mendatangkan manfaat; sikap ekstrem hanya akan memicu pembalikan situasi," tegas Presiden Lee melalui unggahan resmi di akun X pribadinya.
Pernyataan tersebut menambah panjang daftar pejabat pemerintah yang mendesak kedua belah pihak segera mencapai kesepakatan pada putaran negosiasi terakhir yang dijadwalkan berlangsung hari Senin ini.
Sementara itu, Perdana Menteri Korsel Kim Min-seok memperingatkan adanya potensi intervensi hukum berupa penyesuaian darurat untuk menangguhkan aksi mogok selama 30 hari jika dinilai mengancam stabilitas hidup masyarakat.
"Kerugian ekonomi yang akan kita hadapi berada di luar imajinasi," ujar PM Kim yang menilai negosiasi ini sebagai kesempatan terakhir untuk menghindari bencana ekonomi.
Pemerintah memproyeksikan kerugian langsung pemogokan mencapai 1 triliun won dan berpotensi membengkak hingga 100 triliun won jika lini produksi cip terganggu sehingga memaksa pembuangan wafer semikonduktor.
Sebaliknya, pihak serikat pekerja yang melibatkan 47.000 pekerja membantah estimasi pemerintah dan menuduh otoritas hanya mendengarkan klaim sepihak manajemen terkait perkiraan kerugian versi mereka sebesar 30 triliun won.
Merespons eskalasi konflik yang mengancam rantai pasok cip memori global untuk pusat data, ponsel pintar, dan teknologi kecerdasan buatan ini, pimpinan tertinggi perusahaan akhirnya angkat bicara.
Chairman Samsung Lee Jae-yong menyampaikan permohonan maaf terbuka kepada para pelanggan di seluruh dunia karena telah menimbulkan kekhawatiran dan kecemasan terkait kelangsungan pasokan global.
Hingga saat ini, perwakilan manajemen Samsung Electronics dan serikat pekerja masih dijadwalkan untuk melangsungkan putaran negosiasi terakhir guna mencapai kesepakatan.