Premi Reasuransi Energi Onshore Turun Akibat Geopolitik Global

Premi Reasuransi Energi Onshore Turun Akibat Geopolitik Global
Foto: Ilustrasi Premi Reasuransi Energi Onshore Turun Akibat Geopolitik Global.

Tensi geopolitik global dan fluktuasi harga minyak mulai memengaruhi pergerakan premi reasuransi energi onshore sepanjang tahun ini, seperti dilansir dari Keuangan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat premi lini energi onshore merosot 17% secara year on year (yoy) menjadi Rp 30 miliar per Maret 2026.

Pengamat Asuransi Irvan Rahardjo menilai konflik global memberikan tekanan terhadap bisnis asuransi dan reasuransi energi onshore, terutama melalui peningkatan eksposur risiko pada aset dan infrastruktur energi.

"Konflik global meningkatkan eksposur risiko terhadap aset dan infrastruktur energi. Ketegangan di wilayah Timur Tengah, misalnya, memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global," ujar Irvan kepada Kontan, Selasa (26/5/2026).

Menurut pengamatan Irvan, kondisi tersebut membuat industri reasuransi global mulai melakukan penyesuaian terhadap tarif premi dan kebijakan underwriting.

Langkah itu diambil demi mengantisipasi potensi lonjakan klaim akibat konflik geopolitik maupun gangguan operasional sektor energi.

"Situasi ini meningkatkan eksposur risiko dan biaya operasional sehingga perusahaan asuransi melakukan penyesuaian harga premi dan pengetatan underwriting," katanya.

Irvan menambahkan, ketidakpastian geopolitik juga menyebabkan sebagian pelaku industri energi menunda ekspansi maupun proyek baru.

Kondisi itu berdampak pada berkurangnya permintaan polis baru di lini energi onshore, sehingga turut menekan perolehan premi.

Kendati demikian, ia menilai prospek bisnis asuransi energi onshore hingga akhir tahun masih cukup kompetitif meski dibayangi volatilitas geopolitik dan risiko bencana alam.

Ia menyebut pergerakan premi pada lini tersebut saat ini masih berada dalam kondisi soft market atau pelunakan tarif premi.

Namun, perusahaan asuransi dan reasuransi cenderung lebih berhati-hati dalam melakukan akseptasi risiko.

"Pasar tetap kompetitif, tetapi seleksi risiko semakin ketat di tengah ketidakpastian global," tuturnya.

Artikel terkait

Rekomendasi