Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan mengalami penurunan pada sesi perdagangan Senin (25/5/2026). Proyeksi pergerakan indeks melemah ini dipengaruhi oleh sejumlah sentimen domestik maupun global, seperti dikutip dari Investor Daily.
Koreksi mata uang rupiah serta kelanjutan tekanan jual oleh pemodal internasional menjadi faktor penekan indeks. Di sisi lain, isu mengenai penundaan operasional Badan Ekspor Tunggal ke awal tahun depan telah resmi dibantah.
CGS International Sekuritas Indonesia memproyeksikan pergerakan indeks saham domestik akan berfluktuasi dengan kecenderungan melemah.
"IHSG diprediksi akan bergerak bervariasi cenderung melemah dengan kisaran support 6.060-5.960 dan resist 6.265-6.365," tulis CGS International Sekuritas Indonesia dalam ulasan, Senin (25/5/2026).
Faktor penahan koreksi IHSG datang dari zona global, terutama penguatan indeks Wall Street pada akhir pekan lalu. Kenaikan di bursa Amerika Serikat dipicu oleh penurunan tingkat imbal hasil obligasi pemerintah serta harapan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Sentimen positif tersebut menguat setelah adanya laporan mengenai utusan Qatar yang berkoordinasi dengan pihak Amerika Serikat menuju Teheran. Langkah diplomasi ini bertujuan untuk menyelesaikan ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Kondisi tersebut membuat imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun merosot mendekati 3 basis poin ke posisi 4,56%. Sementara itu, imbal hasil untuk masa tenor 30 tahun ikut menyusut lebih dari 4 basis poin ke angka 5,06%.
Menghadapi dinamika pasar modal ini, CGS International Sekuritas Indonesia merilis beberapa pilihan saham untuk aktivitas perdagangan hari ini. Perusahaan sekuritas ini menyarankan saham EXCL, MYOR, HRTA, CPIN, MAPI, dan TINS untuk keperluan trading pada Senin (25/5/2026).