Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto tiba di Cebu, Filipina, pada hari Kamis untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-48. Berdasarkan laporan dari Investortrust, kehadiran ini bertujuan memperkuat peran Indonesia dalam integrasi ekonomi serta menghadapi tantangan geopolitik global.
KTT ASEAN ke-48 yang mengusung tema "Navigating Our Future Together" menjadi ujian regional pertama bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Fokus utama kunjungan delegation Indonesia meliputi penguatan ketahanan pangan, ketahanan energi, dan stabilitas ekonomi kawasan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yang mendampingi Presiden, mendorong percepatan kesepakatan Digital Economy Framework Agreement (DEFA) untuk melipatgandakan nilai ekonomi digital kawasan. Langkah ini didukung integrasi pembayaran digital lintas batas dan standardisasi e-commerce.
"The 48th ASEAN Summit will focus on discussing the impact of global conflicts, especially issues of energy security, food security, and economic stability in the region," ujar Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.
Integrasi ekonomi kawasan ini diproyeksikan mampu menjaga pertumbuhan domestik bruto gabungan ASEAN yang berada pada angka 4,9 persen pada tahun 2025. Selain DEFA, delegasi Indonesia juga mengawal 19 Prioritas Capaian Ekonomi untuk memperkuat investasi berkelanjutan.
ÔÇ£Implementation of DEFA will be able to boost the value of the ASEAN digital economy to $2 trillion in 2030, up from the initial estimate of $1 trillion,ÔÇØ kata Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.
Pada hari pertama, Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan menghadiri KTT BIMP-EAGA bersama Brunei Darussalam, Malaysia, dan Filipina. Forum subregional tersebut menitikberatkan pada konektivitas maritim untuk mendukung pembangunan ekonomi desentralisasi di wilayah timur Indonesia.