Prabowo Subianto Desak Aplikator Potong Biaya Layanan Ojol Dibawah 10 Persen

Prabowo Subianto Desak Aplikator Potong Biaya Layanan Ojol Dibawah 10 Persen
Foto: Ilustrasi Prabowo Subianto Desak Aplikator Potong Biaya Layanan Ojol Dibawah 10 Persen.

Presiden Prabowo Subianto menuntut perusahaan aplikasi layanan transportasi daring untuk menurunkan biaya potongan aplikasi ojek online (ojol) menjadi di bawah 10 persen. Pernyataan tegas ini disampaikan dalam peringatan Hari Buruh di Monumen Nasional, Jakarta Pusat, pada Jumat (1/5).

Kepala Negara menilai besaran potongan saat ini yang mencapai 20 persen atau lebih sangat memberatkan para pengemudi. Berdasarkan laporan yang dilansir dari Detik Oto, Prabowo menekankan bahwa pengemudi ojol memiliki risiko kerja yang tinggi di lapangan setiap harinya.

"Saudara-saudara, ojol kerja keras. Ojol mempertaruhkan jiwanya tiap hari, aplikator perusahaan minta disetor 20 persen. Bagaimana ojol, setuju 20 persen?" ujar Prabowo, Presiden RI.

Presiden kemudian berinteraksi dengan massa aksi mengenai angka ideal potongan layanan tersebut. Ia secara terbuka menolak angka 15 persen maupun 10 persen karena dianggap masih terlalu tinggi bagi kesejahteraan para pekerja lapangan.

"Kalau 15 persen? Apa? Kalian minta 10 persen? Saya katakan di sini, saya tidak setuju 10 persen! Harus di bawah 10 persen!" tambah Prabowo, Presiden RI.

Prabowo memberikan peringatan keras kepada perusahaan penyedia aplikasi seperti Gojek dan Grab agar mematuhi instruksi tersebut. Ia menegaskan bahwa operasional bisnis di Indonesia harus sejalan dengan prinsip keadilan bagi para pengemudi yang telah bekerja keras di jalanan.

"Enak aje, elo yang keringetan, dia yang dapet duit. Sorry aje. Kalau nggak mau ikut kita, nggak usah usaha di Indonesia," kata Prabowo, Presiden RI.

Kondisi di lapangan menunjukkan adanya ketimpangan antara aturan resmi dan praktik ekonomi. Meski Kepmenhub KP Nomor 1001 Tahun 2022 membatasi potongan maksimal 20 persen, asosiasi pengemudi seperti Garda Indonesia melaporkan adanya potongan riil yang menyentuh angka 30 hingga 40 persen.

Situasi ini memicu gelombang protes dan demonstrasi dari para pengemudi ojol selama dua tahun terakhir di wilayah Jakarta. Mereka terus menyuarakan penurunan biaya jasa aplikasi karena rasio keuntungan yang terus tergerus biaya operasional dan potongan yang tidak sesuai ketentuan.

Artikel terkait

Rekomendasi