Prabowo Subianto Proyeksikan Pasar Indonesia Mampu Melampaui Eropa

Prabowo Subianto Proyeksikan Pasar Indonesia Mampu Melampaui Eropa
Foto: Ilustrasi Prabowo Subianto Proyeksikan Pasar Indonesia Mampu Melampaui Eropa.

Potensi pasar domestik Indonesia diyakini mampu melampaui kawasan Eropa berkat sokongan bonus demografi dan kelimpahan sumber daya alam. Hal tersebut disampaikan oleh Presiden RI Prabowo Subianto dalam Rapat Paripurna DPR di Kompleks Parlemen, Jakarta, pada Rabu (20/5/2026).

"Kita memiliki bonus demografi yang menopang konsumsi domestik dan pasar domestik yang besar. Pasar kita bisa sebesar Eropa, dan sungguh sumber daya alam kita melimpah," kata Prabowo, dilansir dari Nasional.

Kekayaan komoditas berharga yang dimiliki Indonesia dinilai menjadi faktor penguat utama lainnya dalam struktur perekonomian nasional.

"Baru bara kita nikel kita tembaga kita minyak kelapa sawit kita, logam tanah jarang, kekayaan laut yang melimpah," ucap Prabowo.

Penegakan hukum yang tegas di wilayah perairan Indonesia turut menjadi fokus perhatian demi menjaga kedaulatan serta melindungi aset negara dari penjarahan ilegal.

"Bumi dan air kita sangat luas. Tiap malam puluhan ribu kapal berbendera asing mengambil kekayaan kita secara ilegal secara tidak sah. Harus kita tegakkan kedaulatan kita di lautan kita sendiri," kata Prabowo.

Kondisi demografi nasional saat ini memang sedang mengalami perubahan struktur yang sangat signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Berdasarkan data Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025, jumlah penduduk Indonesia telah menyentuh angka 284,67 juta jiwa meskipun laju pertumbuhannya tercatat melambat.

Kelompok usia muda dari generasi Z dan milenial kini mendominasi komposisi penduduk sekaligus menjadi tulang punggung populasi produktif.

Generasi Z tercatat menjadi kelompok terbesar dengan persentase 24,93 persen, yang kemudian diikuti oleh generasi milenial sebesar 24,34 persen dari total populasi.

Dominasi ini memastikan Indonesia berada dalam fase bonus demografi, di mana jumlah penduduk usia kerja jauh lebih besar dibandingkan dengan usia nonproduktif.

Artikel terkait

Rekomendasi