Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan agar program Makan Bergizi Gratis (MBG) difokuskan khusus bagi anak-anak yang mengalami kekurangan gizi pada Kamis (9/4/2026). Langkah strategis ini diambil guna memastikan intervensi pemenuhan gizi pemerintah menjangkau kelompok masyarakat yang paling membutuhkan bantuan secara ekonomi dan fisik.
Kebijakan tersebut dinilai sebagai momentum penting untuk mengevaluasi pelaksanaan program agar lebih tepat sasaran. Pengamat kebijakan publik dari Universitas Indonesia, Lina Miftahul Jannah, memberikan dukungan terhadap arahan kepala negara tersebut dalam keterangannya pada Senin (13/4/2026) sebagaimana dilansir dari Nasional.
"Jadi ini memang sudah saatnya untuk melakukan evaluasi, sehingga tepat sasaran," kata Lina, Pengamat Kebijakan Publik Universitas Indonesia.
Lina berpendapat bahwa sasaran utama harus diprioritaskan kepada keluarga yang memiliki keterbatasan kemampuan ekonomi dalam membeli pangan sehat. Hal ini juga mencakup masyarakat yang menghadapi kendala aksesibilitas geografis maupun sosial untuk mendapatkan asupan nutrisi yang layak.
"Mengakses itu artinya, misalnya jauh dari tempat dan segala macam, nah itu kemudian harus menjadi fokus (seperti yang diinginkan Presiden). Jadi kalau ditanya lagi apakah (keinginan Prabowo) tepat? (jawanbannya) iya," kata Lina, Pengamat Kebijakan Publik Universitas Indonesia.
Guna mendukung akurasi data penerima, Lina mengusulkan penggunaan basis data Program Indonesia Pintar (PIP) sebagai acuan utama. Sinkronisasi antara data sekolah dan Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) dianggap mampu mempercepat verifikasi anak dari keluarga tidak mampu.
"Saya pikir dengan cara melakukan sinkronisasi dengan sekolah, dengan PIP," kata Lina, Pengamat Kebijakan Publik Universitas Indonesia.
Pihak pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) mengonfirmasi bahwa arahan Presiden ditujukan agar sumber daya tidak terbuang pada kelompok yang sudah mandiri. Fokus utama tetap pada perbaikan indikator kesehatan anak di wilayah-wilayah rentan.
ÔÇ£Jadi kalau anak-anak orang mampu, kan tidak membutuhkan MBG karena orangtuanya sudah bisa memberi makanan bergizi yang baik di rumahnya,ÔÇØ kata Nanik S. Deyang, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi.
Pemerintah juga memastikan bahwa partisipasi dalam program ini bersifat sukarela dan tidak ada unsur paksaan bagi siswa dari keluarga mampu. BGN saat ini tengah menyiapkan tim khusus untuk melakukan pemilahan data penerima di lapangan.
ÔÇ£Presiden menyampaikan bahwa program ini tidak boleh dipaksakan. MBG harus difokuskan kepada anak-anak yang benar-benar membutuhkan perbaikan gizi,ÔÇØ kata Nanik S. Deyang, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi.
Penguatan sistem pengawasan dan evaluasi berkala akan dilakukan oleh badan terkait untuk menjamin efisiensi distribusi bantuan. Langkah ini diharapkan dapat memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas gizi generasi muda di Indonesia.
ÔÇ£Kami ingin memastikan MBG tepat sasaran dan memberi dampak nyata. Karena itu, pengawasan dan evaluasi akan terus kami perkuat agar program ini berjalan optimal,ÔÇØ kata Nanik S. Deyang, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi.