Dana kelolaan atau asset under management (AUM) reksa dana di Indonesia diproyeksikan bakal mengalami pertumbuhan pesat dalam kurun waktu 5 hingga 7 tahun ke depan. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya kesadaran masyarakat dalam berinvestasi serta potensi penguatan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita nasional.
Direktur Bahana TCW Investment Management, Budi Hikmat, menjelaskan bahwa lonjakan kesadaran investasi di kalangan masyarakat mulai terlihat signifikan sejak masa pandemi Covid-19. Reksa dana kini menjadi pilihan populer bagi para investor baru.
ÔÇ£Investor punya potensi besar bagi reksa dana dan awareness ini sudah muncul sejak pandemi. Reksa dana dianggap sebagai instrumen investasi yang aman dan cuannya nyaman,ÔÇØ papar Budi Hikmat dilansir dari Investortrust.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam diskusi panel bertajuk ÔÇ£Tantangan Investasi Reksa Dana di Tahun PolitikÔÇØ yang diselenggarakan oleh Investortrust. Pandangan serupa juga diungkapkan oleh Chief Executive Officer PT Trimegah Asset Management, Antony Dirga.
Antony Dirga menilai bahwa pertumbuhan dana kelolaan reksa dana akan berjalan selaras dengan peningkatan GDP per kapita Indonesia. Saat ini, GDP per kapita RI berada di angka US$ 5.000 dan diperkirakan menyentuh minimal US$ 7.500 dalam lima tahun mendatang.
ÔÇ£Karena itu jumlah AUM yang ditargetkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebesar Rp 1.000 triliun tahun 2027 dengan mudah tercapai. Bahkan bisa tumbuh tiga kali lipat dalam tempo 5-7 tahun dari jumlah saat ini,ÔÇØ kata Antony.
Berdasarkan data hingga Agustus 2023, total dana kelolaan reksa dana di Indonesia tercatat sebesar Rp 516,56 triliun. Angka ini baru mencakup separuh dari target yang ditetapkan oleh pihak regulator untuk tahun 2027.
Perbandingan dengan Negara Tetangga
Potensi ekspansi industri reksa dana domestik masih sangat luas jika dibandingkan dengan negara tetangga. Antony menyebutkan bahwa penetrasi dana kelolaan reksa dana di Indonesia baru mencapai sekitar 5,5% dari total GDP nasional.
ÔÇ£Dana kelolaan reksa dana di RI hanya sekitar 5,5% dari GDP, bandingkan dengan Malaysia yang mencapai 25-30% dari GDP,ÔÇØ papar Antony Dirga.
Untuk mencapai target pertumbuhan tersebut, penguatan literasi dan edukasi keuangan menjadi aspek yang sangat krusial. Antony menekankan bahwa industri reksa dana dibangun di atas pondasi kepercayaan investor yang harus terus dipupuk secara konsisten.
ÔÇ£Sejatinya pengawasan industri reksa dana sudah sangat ketat di RI, begitu juga dengan tata kelola manajer investasi sudah begitu maju. Hal ini harus disampaikan dengan baik untuk meningkatkan keparcayaan masyarakat pada industri ini,ÔÇØ tutur Antony.