Polda Metro Jaya tengah menyelidiki penyebab kecelakaan maut antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur yang mengakibatkan 16 orang meninggal dunia hingga Kamis (30/4/2026). Penyelidikan ini difokuskan pada dugaan kelalaian manusia atau kendala teknis dalam sistem operasional kereta.
Jumlah korban jiwa bertambah setelah satu orang penumpang yang menjalani perawatan intensif di ruang ICU dilaporkan mengembuskan napas terakhir. Dilansir dari Detik Health, insiden ini juga menyebabkan sejumlah penumpang lain mengalami luka-luka, termasuk seorang lansia yang harus menjalani prosedur medis serius.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto memberikan penjelasan terkait langkah hukum yang diambil kepolisian untuk mengungkap fakta di balik tragedi tersebut. Tim penyidik telah melakukan olah tempat kejadian perkara dan mulai mengumpulkan keterangan dari pihak-pihak terkait.
"Kami akan dalami apakah ini terkait human error atau ada kendala sistem. Semua akan ditelusuri melalui pemeriksaan saksi, barang bukti, dan hasil olah TKP," kata Budi.
Pemeriksaan lanjutan dijadwalkan menyasar masinis KA Argo Bromo Anggrek serta petugas stasiun dan Polisi Khusus Kereta Api (Polsuska) untuk memetakan kronologi kejadian secara utuh. Sementara itu, kepolisian telah lebih dulu meminta keterangan dari pengemudi transportasi daring yang berada di sekitar lokasi.
"Untuk agenda riksa (pemeriksaan) petugas (masinis, petugas stasiun, polsuska) dari PT KAI akan dilaksanakan di kantor PT KAI besok," kata Budi.
Penyidik juga memfokuskan pendalaman terhadap saksi lain yang telah memberikan keterangan sebelumnya pada awal pekan ini guna melengkapi berkas perkara. Informasi dari para saksi di lapangan menjadi kunci untuk menentukan arah penyidikan lebih lanjut.
"Untuk driver taksi online inisial RRP diminta keterangan kemarin Selasa dan hari ini Rabu di Polres Metro Bekasi Kota," lanjut Budi.
Di sisi lain, perjuangan untuk pulih tengah dihadapi oleh Sariyati (63), salah satu korban selamat yang harus menjalani operasi besar akibat kerusakan organ dalam. Lansia tersebut didampingi oleh relawan karena pihak keluarga inti masih berada di luar pulau Jawa.
Nia, seorang relawan pendamping pasien, menjelaskan bahwa tindakan pengangkatan limpa terpaksa dilakukan karena kondisi medis Sariyati yang cukup parah setelah kejadian tersebut pada Rabu (29/4).
"Kondisi ibunya (Sariyati) kemarin telah dilakukan operasi ya pengangkatan lien (limpa) karena organ dalamnya itu ada beberapa bagian yang hancur seperti itu," kata Nia.
Pascaoperasi, kondisi kesehatan Sariyati dilaporkan mulai menunjukkan tanda-tanda stabil meskipun masih memerlukan observasi ketat dari tim medis rumah sakit. Saat ini, pasien telah dipindahkan dari ruang bedah untuk menjalani masa pemulihan di ruang perawatan umum.
"Saat ini sudah sadar, tapi masih dalam pemulihan. Sudah masuk ke ruang rawat sih," sambung Nia.