PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) memperkuat komitmen prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) melalui pengolahan limbah plastik menjadi produk bernilai guna pada Rabu (7/5/2026). Langkah strategis ini bertujuan mendorong keberlanjutan lingkungan dan memperkokoh praktik ekonomi sirkular, sebagaimana dilansir dari Money.
Sistem pengelolaan sampah ini dilakukan secara terintegrasi mulai dari pemilahan oleh internal karyawan hingga proses pengolahan akhir. PGN bersinergi dengan Kertabumi Recycling Centre dan Bank Sampah Al-Bustaniyah guna memastikan seluruh limbah terkelola dengan standar yang bertanggung jawab.
Corporate Secretary PGN Fajriyah Usman menegaskan bahwa inisiatif tersebut merupakan upaya perusahaan untuk membangun budaya kerja yang mengedepankan aspek keberlanjutan bagi seluruh elemen di lingkungan internal.
"Melalui kolaborasi lintas fungsi dan penerapan prinsip ekonomi sirkular, kami ingin membangun ekosistem kerja yang lebih bertanggung jawab, meningkatkan awareness ESG di internal perusahaan, sekaligus menciptakan nilai tambah dari limbah menjadi sumber daya yang bermanfaat," kata Fajriyah Usman, Corporate Secretary PGN.
Perusahaan juga melibatkan National Geographic Indonesia serta Kompas untuk memperluas jangkauan kampanye edukasi lingkungan kepada publik secara luas.
"Program ini juga menjadi wujud nyata komitmen PGN dalam menghadirkan dampak sosial dan lingkungan yang berkelanjutan," lanjut Fajriyah Usman, Corporate Secretary PGN.
Pihak manajemen menaruh harapan besar agar inisiatif pengolahan sampah ini bisa menjadi stimulus bagi masyarakat dalam mengubah pola pikir terhadap limbah plastik sekali pakai.
"Kami berharap melalui inisiatif ini kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan dapat semakin meningkat, sehingga mampu mendorong masyarakat untuk lebih bijak dalam mengelola sampah plastik," ujar Fajriyah Usman, Corporate Secretary PGN.
Data Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan urgensi penanganan limbah yang serius, mengingat timbulan sampah tidak terkelola mencapai 109 ton per hari. Angka tersebut setara dengan 75 persen dari total timbulan sampah secara nasional yang memicu polusi serta kerusakan ekosistem.
Ikbal Alexander dari Kertabumi Recycling Centre menyatakan bahwa penyelesaian krisis sampah plastik memerlukan kerja sama kolektif antara sektor swasta dan komunitas warga.
"Permasalahan sampah tidak dapat diselesaikan sendiri-sendiri. Dibutuhkan kolaborasi antara perusahaan, komunitas, dan masyarakat untuk membangun kebiasaan pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab serta mendorong penerapan ekonomi sirkular yang memberikan dampak nyata bagi lingkungan," ujar Ikbal Alexander, Kertabumi Recycling Centre.
Ia menambahkan bahwa metode edukasi dan pemilahan yang diterapkan PGN merupakan instrumen krusial dalam menekan volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan.
"Kami melihat program seperti ini sangat penting untuk membantu mengurangi timbulan sampah plastik sekaligus mendorong penerapan ekonomi sirkular yang berkelanjutan melalui pengelolaan limbah yang lebih bertanggung jawab dan bernilai guna," tutur Ikbal Alexander, Kertabumi Recycling Centre.
Sementara itu, Editor National Geographic Indonesia Ade Sulaeman menyoroti ancaman partikel mikroplastik yang kini telah masuk ke sistem pernapasan dan aliran darah manusia.
"Kondisi ini menunjukkan dampak sampah plastik yang semakin meluas dan tidak terlihat secara langsung, sehingga membutuhkan peningkatan kesadaran serta perubahan perilaku masyarakat dalam mengurangi penggunaan plastik sekali pakai," tegas Ade Sulaeman, Editor National Geographic Indonesia.
Ia mengapresiasi langkah korporasi yang proaktif dalam menyosialisasikan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan demi kesehatan jangka panjang.
"Permasalahan sampah plastik tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi yang kuat untuk membangun perubahan perilaku masyarakat," ujar Ade Sulaeman, Editor National Geographic Indonesia.
Inisiatif ini dianggap sebagai fondasi penting bagi sektor industri dalam mendukung target-target lingkungan nasional.
"Apa yang dilakukan oleh PGN menjadi langkah positif dalam meningkatkan awareness lingkungan sekaligus mendorong keberlanjutan," lanjut Ade Sulaeman, Editor National Geographic Indonesia.
Di sisi lain, Pemerintah melalui Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono mengumumkan rencana penutupan 472 praktik open dumping di TPA seluruh Indonesia pada Agustus 2026. Fokus pemerintah saat ini tertuju pada pemilahan sampah di tingkat hulu untuk mencapai target pengelolaan 100 persen pada tahun 2029.
"Tanpa pemilahan, pengelolaan sampah tidak bisa selesai dengan baik. Selain itu, kita juga akan menutup praktik open dumping akhir Juli, jadi di bulan Agustus 472 TPA yang ada akan diselesaikan," ujar Diaz Hendropriyono, Wakil Menteri Lingkungan Hidup.
Langkah tegas ini diproyeksikan mampu meningkatkan persentase pengelolaan sampah nasional secara signifikan dari angka 26 persen saat ini.
"Program pemilahan ini sudah sesuai dengan arahan Presiden yang memiliki target sampah terkelola 100 persen di tahun 2029. Dengan diselesaikannya praktik open dumping, kami bisa angkat persentase pengelolaan sampah saat ini di 26 persen menjadi 57,7 persen," katanya Diaz Hendropriyono, Wakil Menteri Lingkungan Hidup.
Pemerintah mengapresiasi warga di Kelurahan Rorotan, Jakarta Utara, yang telah memulai pemilahan residu secara mandiri untuk mengurangi beban TPA.
"Semoga dari Rorotan, bisa jadi percontohan untuk 30 kelurahan lainnya yang ada di Jakarta Utara, agar semua bisa memilah sampah dengan baik," jelas Diaz Hendropriyono, Wakil Menteri Lingkungan Hidup.