Pertamina Geothermal Energy Bagikan Dividen 123,9 Juta Dollar AS

Pertamina Geothermal Energy Bagikan Dividen 123,9 Juta Dollar AS
Foto: Ilustrasi Pertamina Geothermal Energy Bagikan Dividen 123,9 Juta Dollar AS.

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) resmi mengumumkan pembagian dividen tunai tahun buku 2025 sebesar 123,9 juta dollar AS atau setara Rp 49,4423 per saham. Keputusan ini diambil setelah perseroan mendapatkan persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada 21 April 2026.

Dilansir dari Money, total dividen tersebut bersumber dari laba bersih entitas induk yang mencapai 137,7 juta dollar AS hingga akhir Desember 2025. Perusahaan juga mencatat saldo laba ditahan sebesar 139 juta dollar AS sebagai landasan pembagian keuntungan kepada para pemegang saham.

Berdasarkan pengumuman keterbukaan informasi, periode cum dividen di pasar reguler dan negosiasi dijadwalkan pada 30 April 2026. Sementara itu, proses pembayaran dividen kepada pemegang saham yang berhak akan dilaksanakan sepenuhnya pada 22 Mei 2026.

Pada aspek operasional tahun 2025, PGEO membukukan pendapatan senilai 432,73 juta dollar AS dengan EBITDA mencapai 330,35 juta dollar AS. Produksi listrik perseroan menyentuh angka 5.095,48 gigawatt hour (GWh), yang merupakan capaian tertinggi dalam sejarah perusahaan berkat operasional PLTP Lumut Balai Unit 2.

Pengamat energi sekaligus Member of the Supervisory Board Rumah Energi, Elrika Hamdi, memberikan catatan terkait prospek industri panas bumi yang dijalankan perusahaan. Ia menilai rencana transisi energi nasional memberikan peluang besar bagi pengembangan lapangan eksplorasi baru di masa depan.

"Kalau melihat rencana transisi energi Indonesia ke depan, bisnis PGEO memiliki potensi tinggi untuk berkembang karena masih ada sejumlah lapangan panas bumi yang sedang dieksplorasi yang kemudian dapat dieksploitasi, sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi investor," ujar Elrika Hamdi, Pengamat Energi.

Elrika menambahkan bahwa energi panas bumi memiliki stabilitas yang sangat baik dengan faktor kapasitas mencapai 90 persen. Karakteristik ini memungkinkan pembangkit listrik panas bumi untuk beroperasi secara terus-menerus sepanjang waktu dibandingkan sumber energi terbarukan lainnya.

"Kalau sudah beroperasi, pembangkit listrik panas bumi umumnya kinerjanya baik dan menguntungkan. Namun, tantangan utama justru berada pada proses awal identifikasi hingga ke eksplorasi, yang memerlukan waktu cukup panjang dan penuh risiko," kata Elrika Hamdi, Pengamat Energi.

Pemerintah sendiri telah menetapkan target ambisius dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) untuk mencapai porsi energi terbarukan sebesar 76 persen hingga 2034. Dalam target tersebut, sektor panas bumi diharapkan dapat berkontribusi sebesar 5,2 gigawatt (GW) untuk mendukung penurunan emisi karbon nasional.

Artikel terkait

Rekomendasi