PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) membukukan kinerja keuangan solid dengan meraih laba bersih sebesar US$ 137,67 juta sepanjang tahun 2025. Capaian tersebut disahkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar di Jakarta pada Selasa (21/4/2026).
Dilansir dari Investortrust, perusahaan berkode saham PGEO ini juga mencatatkan pendapatan total mencapai US$ 432,73 juta atau setara Rp 6,92 triliun. Fundamental keuangan yang kuat ini ditopang oleh perolehan EBITDA sebesar US$ 330,35 juta dengan margin tinggi mencapai 76,34%.
Peningkatan performa finansial perseroan sejalan dengan hasil operasional yang mencatat produksi listrik berbasis panas bumi tertinggi sepanjang sejarah sebesar 5.095,48 gigawatt hour (GWh). Angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 5,55% dibandingkan capaian pada tahun sebelumnya.
Faktor utama pendorong kenaikan operasional ini adalah mulainya komersialisasi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai Unit 2 sejak Juni 2025. Fasilitas tersebut menambah kapasitas terpasang sebesar 55 megawatt (MW) sehingga total kapasitas keseluruhan saat ini menyentuh 727 MW.
Dalam rapat tahunan tersebut, pemegang saham juga menyetujui penunjukan Fransetya Hasudungan Hutabarat sebagai direktur keuangan baru menggantikan Yurizki Rio. Langkah penyegaran manajemen ini diambil demi memperkuat tata kelola keuangan di tengah agenda ekspansi bisnis perusahaan yang kian agresif.
Sebelumnya, Fransetya memiliki rekam jejak panjang selama 25 tahun di sektor keuangan dan energi, termasuk memimpin posisi finansial di PT Kilang Pertamina Internasional. Kehadirannya diproyeksikan mampu menjaga kontinuitas strategi serta mendongkrak daya saing korporasi.
"PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE), menegaskan optimisme atas momentum pertumbuhan tersebut dengan dukungan kepemimpinan baru dan proyek strategis yang terus berjalan," kata Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk Ahmad Yani.
Untuk jangka panjang, perusahaan memprioritaskan investasi pada proyek-proyek cepat menghasilkan keuntungan (quick win) guna mendongkrak kapasitas produksi. PGE menetapkan target kapasitas terpasang dapat menyentuh 1 gigawatt pada tahun 2028 dan melonjak hingga 1,8 gigawatt pada tahun 2034.
"Sebagai perusahaan panas bumi terbesar di Indonesia, PGE terus mengakselerasi pertumbuhan melalui optimalisasi aset, ekspansi bisnis, dan diversifikasi pendapatan. Capaian 2025 menjadi dasar untuk mewujudkan visi sebagai world leading geothermal producer sekaligus mendukung ketahanan energi nasional," ujar Ahmad Yani.
Selain itu, perluasan basis pertumbuhan dilakukan lewat eksplorasi proyek greenfield di Gunung Tiga, Lampung, yang berpotensi menghasilkan 55 MW. Kerja sama dengan PLN Indonesia Power juga dijajaki untuk membuka peluang tambahan daya hingga 530 MW, di mana empat proyek strategisnya telah masuk dalam Blue Book Bappenas 2025ÔÇô2029.
Sisi inovasi juga disentuh lewat pengembangan proyek percontohan hidrogen hijau di Ulubelu, penjajakan pusat data berbasis panas bumi, serta peluncuran inovasi Flow2Max bersama Ecolab. RUPST pun menyetujui revisi anggaran dasar agar perseroan bisa merambah sektor pengolahan data, infrastruktur komputasi, hingga penyewaan alat pertambangan.
"Bergabungnya Fransetya Hutabarat menjadi momentum positif untuk memperkuat kinerja bisnis ke depan. Perseroan akan terus mendorong ekspansi sekaligus menjaga kesehatan keuangan secara berkelanjutan," kata Ahmad Yani.