Pertumbuhan Harga Rumah Kuartal I 2026 Melambat Akibat Daya Beli Lemah

Pertumbuhan Harga Rumah Kuartal I 2026 Melambat Akibat Daya Beli Lemah
Foto: Ilustrasi Pertumbuhan Harga Rumah Kuartal I 2026 Melambat Akibat Daya Beli Lemah.

Pertumbuhan harga properti residensial pada kuartal I/2026 tercatat mulai kehilangan momentum. Fenomena ini terjadi di tengah lesunya permintaan pasar dan melambatnya kenaikan harga di berbagai kota besar di Indonesia.

Data Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia, yang dikutip dari Ekonomi, menunjukkan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) kuartal I/2026 berada pada level 110,60. Secara tahunan, angka tersebut tumbuh 0,62%.

Capaian pertumbuhan tersebut lebih rendah jika dibandingkan dengan triwulan IV/2025 yang mampu mencapai 0,83%. Perlambatan ini menjadi sinyal bahwa sektor perumahan primer masih berjuang untuk pulih sepenuhnya.

Penurunan laju kenaikan harga terlihat cukup signifikan pada segmen rumah tipe menengah dan besar. Harga hunian tipe menengah hanya tumbuh 0,88% secara tahunan, menyusut dari angka 1,12% pada kuartal sebelumnya.

Tren serupa menimpa rumah tipe besar yang hanya mengalami kenaikan harga sebesar 0,50%. Angka ini lebih rendah dibandingkan capaian periode sebelumnya yang mencatatkan pertumbuhan 0,72%.

Rumah tipe kecil pun tidak luput dari tren perlambatan. Pertumbuhan harga pada segmen ini berada di angka 0,61% secara tahunan, mengalami penurunan dari level 0,76% pada kuartal IV/2025.

Kondisi Pasar Secara Kuartalan

Secara kuartalan, IHPR hanya mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,04% pada kuartal I/2026. Angka ini menunjukkan perlambatan drastis dibandingkan kenaikan 0,17% pada periode triwulan sebelumnya.

Hampir seluruh segmen rumah mengalami tekanan harga secara kuartalan. Harga rumah tipe kecil hanya naik 0,06%, sementara rumah tipe besar juga naik 0,06%, jauh lebih rendah dari kenaikan sebelumnya yang mencapai 0,17%.

Kondisi paling kontras dialami oleh rumah tipe menengah. Segmen ini justru mengalami kontraksi sebesar 0,01% setelah pada periode sebelumnya sempat tumbuh positif di angka 0,12%.

Dinamika Harga Properti di Berbagai Wilayah

Berdasarkan survei terhadap 18 kota, sebanyak 10 kota mengalami perlambatan pertumbuhan harga tahunan, sementara tiga kota lainnya justru mencatat penurunan nilai properti.

Banjarmasin menjadi wilayah dengan perlambatan paling tajam, di mana pertumbuhan harga merosot ke angka 0,52% dari sebelumnya 1,63%. Surabaya juga mencatat kontraksi harga sebesar 0,27% secara tahunan.

Tekanan harga secara kuartalan terlihat paling mencolok di wilayah Pontianak dan Yogyakarta. Harga hunian di Pontianak turun 0,74%, sedangkan Yogyakarta terkontraksi sebesar 0,68%.

Meskipun demikian, beberapa kota mulai menunjukkan tren pemulihan. Balikpapan mencatatkan kenaikan harga 1,44% secara tahunan, sementara Padang melonjak tajam dengan pertumbuhan 1,21% dibandingkan periode lalu.

Pergerakan harga yang sangat terbatas ini mengindikasikan sikap hati-hati dari pihak pengembang. Langkah tersebut diambil guna mengantisipasi daya beli konsumen yang belum stabil serta persaingan pasar yang semakin ketat.

Artikel terkait

Rekomendasi