Ekonomi China Tumbuh 5 Persen pada Kuartal I 2026

Ekonomi China Tumbuh 5 Persen pada Kuartal I 2026
Foto: Ilustrasi Ekonomi China Tumbuh 5 Persen pada Kuartal I 2026.

Produk Domestik Bruto (PDB) China mencatatkan pertumbuhan sebesar 5 persen secara tahunan pada kuartal pertama yang berakhir Jumat, 17 April 2026. Capaian tersebut melampaui estimasi para ekonom yang sebelumnya memprediksi pertumbuhan di angka 4,8 persen, dilansir dari Detik Finance.

Data resmi pemerintah menunjukkan bahwa kebangkitan sektor manufaktur menjadi tumpuan utama akselerasi ekonomi Negeri Tirai Bambu tersebut. Peningkatan volume ekspor, khususnya pada komoditas kendaraan bermotor dan produk industri lainnya, berkontribusi signifikan terhadap hasil positif ini di tengah gangguan pasokan energi global akibat konflik Timur Tengah.

Analis dari Brookings Institution memberikan pandangannya mengenai performa perdagangan luar negeri China yang menjadi motor penggerak utama pada periode awal tahun ini.

"Sektor otomotif dan ekspor lainnya menjadi titik terang dalam pertumbuhan," ujar Analis Brookings Institution, Kyle Chan.

Meskipun performa manufaktur menguat, Chan mencatat adanya tekanan dari sektor properti yang masih lesu akibat penurunan nilai investasi. Ia juga menyoroti bahwa dampak ketegangan geopolitik dunia belum sepenuhnya terefleksi pada data ekonomi saat ini.

"Sektor otomotif dan ekspor lainnya menjadi titik terang dalam pertumbuhan," ujar Analis Brookings Institution, Kyle Chan.

Kekhawatiran terhadap masa depan ekonomi China juga mencuat seiring dengan munculnya indikasi pelemahan di beberapa lini. Harga bahan bakar di dalam negeri mulai mengalami kenaikan yang berdampak pada operasional maskapai penerbangan akibat tingginya harga avtur.

Tantangan eksternal berupa kebijakan tarif dagang dari Amerika Serikat (AS) turut menjadi ancaman nyata. Saat ini, sebagian besar barang ekspor China telah dikenai tarif 10 persen, dengan potensi kenaikan lebih lanjut oleh Menteri Keuangan AS, Scott Bessent.

Kinerja perdagangan pada Maret 2026 memperlihatkan penyusutan surplus menjadi sekitar US$ 50 miliar, yang merupakan level terendah dalam setahun terakhir. Lonjakan nilai impor sebesar hampir 28 persen terjadi akibat kenaikan harga bahan baku global, sementara pertumbuhan ekspor melambat ke angka 2,5 persen pada bulan yang sama.

Artikel terkait

Rekomendasi