LPEM FEB UI Sebut Pertumbuhan Ekonomi Belum Sejahterakan Buruh

LPEM FEB UI Sebut Pertumbuhan Ekonomi Belum Sejahterakan Buruh
Foto: Ilustrasi LPEM FEB UI Sebut Pertumbuhan Ekonomi Belum Sejahterakan Buruh.

Laju pertumbuhan ekonomi dinilai belum berjalan selaras dengan kondisi kesejahteraan masyarakat, khususnya kalangan buruh, akibat dampaknya yang belum terasa secara menyeluruh. Hal tersebut disampaikan oleh Peneliti LPEM FEB UI, Rizki Nauli Siregar, dalam diskusi The Forum di Hotel Mulia, Jakarta, pada Selasa (26/5/2026), sebagaimana dilansir dari Investor Daily.

Padahal, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4% selama tahun 2026. Angka tersebut ditargetkan tumbuh lebih tinggi lagi di kisaran 5,8% sampai 6,5% dalam Kerangka Ekonomi Makro (KEM) Pokok Pokok Kebijakan Fiskal (PPKF) 2027.

Berdasarkan data LPEM FEB UI, realisasi pertumbuhan ekonomi nasional berada dalam rentang 5% pada periode 2018-2025 dengan peningkatan upah riil sekitar 6%. Sementara pada periode 2005-2017, pertumbuhan kesejahteraan berada di sekitar 5%, tetapi pertumbuhan upah riil atau daya beli masyarakat hanya sekitar 2%.

"Artinya pertumbuhan ini tidak dirasakan oleh sebagian besar masyarakat umum yang adalah kebanyakan labor (buruh)," tutur Rizki Nauli Siregar, Peneliti LPEM FEB UI.

Rizki menambahkan bahwa saat ini konsumsi tumbuh tinggi dan menjadi pendorong perekonomian. Namun, daya beli yang tergerus memicu porsi konsumsi melahap lebih banyak pendapatan dari sebelumnya 68% menjadi 75%, sehingga tabungan turun dan utang meningkat.

"Dari mana mereka bisa membiayainya? Ternyata savings turun dan peningkatan loan juga ada. Jadi bukan hanya kemungkinan besar mereka harus membayar lebih banyak dan juga mengambil tabungan dari yang sudah ada," kata Rizki Nauli Siregar, Peneliti LPEM FEB UI.

Kondisi ini diperparah oleh sektor industri yang dinilai belum bisa menghasilkan lapangan kerja berkualitas. Pembenahan total harus segera dilakukan agar dapat menghadirkan pertumbuhan ekonomi berkualitas yang memberikan dampak positif ke penyerapan tenaga kerja.

"Jadi kita perlu juga mentranslasikan angka-angka makro ini bagaimana dirasakan oleh masyarakat. Kita sungguh bersyukur masyarakat dan bisnis di Indonesia itu sangat resilien. Namun ketika menjadi lebih lemah menurut saya itu jadi missing opportunity terutama di saat global sedang gonjang-gonjing," tutup Rizki Nauli Siregar, Peneliti LPEM FEB UI.

Artikel terkait

Rekomendasi