PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) resmi memacu koneksi energinya ke tingkat yang lebih tinggi. Anak usaha Pertamina di bidang energi terbarukan ini mengumumkan perpindahan fokus dari fase perencanaan menuju eksekusi agresif atas rangkaian proyek mereka.
Langkah taktis ini diambil demi mengukuhkan posisi perusahaan sebagai produsen listrik berkekuatan 1 gigawatt (GW). Upaya percepatan tersebut menjadi momen krusial bagi emiten ini dalam memonetisasi cadangan energi vulkanik Indonesia yang melimpah.
Dikutip dari Investortrust, Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGEO, Edwil Suzandi, memberikan konfirmasi resmi terkait perkembangan ini dalam sebuah konferensi pers daring.
"We are no longer talking about plans; we have entered the execution stage. Our number one priority is the path to becoming a one-gigawatt producer," kata Edwil Suzandi.
Bagi investor global yang berfokus pada aspek Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (ESG), PGEO dinilai menjadi opsi instrumen paling cair untuk terlibat dalam transisi energi di Indonesia. Perusahaan juga berhasil memangkas profil risiko eksekusi melalui percepatan ekspansi area brownfield yang berisiko rendah, seperti di Ulubelu dan Lumut Balai.
Keberhasilan menembus ambang batas 1 GW tidak hanya akan menjamin arus kas jangka panjang yang terikat mata uang dolar AS lewat Perjanjian Jual Beli Listrik (PPA). Pencapaian ini sekaligus menempatkan Indonesia sebagai pemimpin kapasitas panas bumi global yang berada tepat di bawah Amerika Serikat.
Titik tumpu dari strategi percepatan ini adalah megaproyek perluasan Ulubelu Unit 1 dan 2 yang menelan anggaran sebesar 449 juta dolar AS. Proyek ini dilaporkan telah memasuki tahapan tender pra-kualifikasi dengan target operasional komersial yang dipatok pada tahun 2028.
Di samping membangun unit-unit baru, PGEO mengalokasikan dana 418 juta dolar AS untuk menggarap teknologi kogenerasi. Teknologi tersebut dimanfaatkan guna memeras pasokan daya tambahan hingga 230 megawatt (MW) dari aliran panas bumi yang sudah berjalan saat ini.
Edwil Suzandi menggarisbawahi bahwa proyek-proyek ini bukan lagi sebuah spekulasi tahap awal. Seluruh rencana kerja kini bergerak aktif menuju realisasi kapasitas baru berdasarkan basis operasi perusahaan yang kini berada di angka 727 MW.
Mitigasi Risiko Proyek
Pertumbuhan usaha yang dirancang oleh perseroan kini diklaim tidak lagi bersifat spekulatif. Edwil Suzandi mengungkapkan bahwa proyek Lumut Balai 3 telah mengantongi Keputusan Investasi Akhir (FID), dengan kegiatan pengeboran awal yang siap segera dimulai demi menambah daya 55 MW.
Selanjutnya, proyek Lumut Balai 4 akan menyusul melalui implementasi rencana pembangunan bertahap dengan durasi waktu selama lima tahun.
"The projects are certain, and the execution risk has decreased significantly," ujar Edwil Suzandi.
Dirinya mengimbuhkan bahwa kepastian komersial dari seluruh wilayah kerja tersebut kini sudah berada di posisi yang sangat kuat. Hal ini terjadi seiring tuntasnya kesepakatan tarif untuk proyek Lahendong serta Ulubelu, sehingga struktur pendapatan dan skema pendanaan menjadi jauh lebih transparan.
Suntikan Dana Lewat Pembiayaan Hijau
Guna mendanai ekspansi masif yang menembus angka 860 juta dolar AS lebih ini, PGEO memanfaatkan tingginya minat pasar modal global terhadap instrumen utang ramah lingkungan. Emiten panas bumi ini berhasil mengamankan posisi dalam "Blue Book" milik Bappenas.
Pencatatan di dokumen Bappenas tersebut menjadi syarat mutlak bagi korporasi untuk bisa mengakses pinjaman berbunga rendah dari lembaga keuangan internasional seperti Bank Dunia dan Asian Development Bank (ADB).
Melalui pemanfaatan skema green financing berskala internasional ini, PGEO bertekad menjaga biaya modal tetap rendah sembari mendongkrak kapasitasnya hingga 2,5 kali lipat pada tahun 2033. Pola penggalangan dana ini dinilai ampuh melindungi perusahaan dari gejolak suku bunga domestik sekaligus memikat investor institusi yang diwajibkan mengoleksi aset berkelanjutan.