Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Solo secara resmi memulai langkah persiapan strategis untuk menyukseskan gelaran besar Sensus Ekonomi (SE) 2026. Sebanyak 362 petugas lapangan terpilih kini tengah menjalani pelatihan intensif guna memastikan kualitas data yang dihimpun nantinya benar-benar akurat.
Rangkaian pelatihan tatap muka untuk gelombang pertama ini dibuka di Pose In Hotel Solo, yang berlokasi di Jalan Walter Monginsidi, Kestalan, Banjarsari, pada Selasa, 2 Juni 2026. Acara ini menjadi tonggak penting sebelum para petugas terjun langsung ke berbagai sektor ekonomi di masyarakat.
Fokus Pelatihan dan Kualitas Data
Kepala BPS Solo, Ratna Setyowati, menegaskan bahwa pelatihan ini dirancang untuk memberikan pemahaman teknis yang mendalam bagi seluruh peserta. Para petugas dibekali pengetahuan mengenai standar prosedur operasional (SOP), metodologi penelitian, serta definisi konsep yang akan digunakan dalam SE 2026.
Selain aspek teknis pendataan, kurikulum pelatihan juga mencakup manajemen Indikator Kinerja Utama atau Key Performance Indicator (KPI). Para petugas juga diajarkan cara mengoperasikan aplikasi Fasih Mobile yang menjadi perangkat utama dalam sistem pendataan digital saat ini.
Ratna berharap melalui pembekalan ini, Kota Surakarta akan memiliki tim pendata yang handal dan profesional. Kualitas petugas lapangan menjadi faktor penentu agar data Sensus Ekonomi yang dihasilkan benar-benar mencerminkan kondisi riil di lapangan.
Rincian jadwal dan teknis pelaksanaan pelatihan petugas Sensus Ekonomi 2026:
- Total Petugas: 362 orang personel yang siap diterjunkan ke lapangan.
- Periode Pendataan: Kegiatan lapangan dijadwalkan berlangsung mulai 15 Juni hingga Agustus 2026.
- Metode Pelatihan: Menggunakan sistem hibrida yang terbagi dalam tiga gelombang pelatihan.
- Pembelajaran Mandiri: Peserta wajib menuntaskan materi di platform Massive Open Online Course (MOOC).
- Durasi Tatap Muka: Pelatihan offline dilakukan selama tiga hari di dalam kelas yang dipandu instruktur.
Sistem pelatihan ini sengaja disusun sedemikian rupa agar setiap peserta memiliki basis pengetahuan yang kuat sebelum berdiskusi di kelas. Dengan adanya MOOC, peserta sudah memahami teori dasar sehingga sesi tatap muka bisa lebih fokus pada simulasi dan pemecahan masalah.
Untuk gelombang pertama, terdapat 144 peserta yang dibagi ke dalam lima kelas berbeda. Setiap kelas tersebut dibimbing oleh Instruktur Daerah (Inda) yang telah mengantongi sertifikasi nasional guna menjamin standar kualitas pengajaran.
Metode Simulasi dan Evaluasi Ketat
Selama menjalani pelatihan tatap muka, para calon petugas ini diinapkan di hotel untuk memaksimalkan efektivitas belajar. Jadwal pembelajaran bahkan berlangsung hingga malam hari guna memastikan seluruh materi tersampaikan dengan sempurna tanpa gangguan eksternal.
BPS Solo juga menerapkan sistem evaluasi yang sangat ketat bagi setiap peserta pelatihan. Evaluasi tersebut mencakup rangkaian tes mulai dari pre-test di awal sesi, post-test, hingga ujian pendalaman materi untuk melihat sejauh mana kesiapan mereka.
Aspek komunikasi juga menjadi poin penting yang ditekankan oleh BPS kepada para petugas lapangan. Kemampuan berkomunikasi yang baik sangat krusial dalam menggali informasi yang akurat dan jujur dari para pelaku usaha sebagai responden.
Sebagai bentuk praktik nyata, BPS menyelenggarakan sesi role playing atau simulasi wawancara. Dalam sesi ini, warga didatangkan secara langsung untuk berperan sebagai responden latihan agar petugas terbiasa menghadapi situasi nyata di lapangan.
Dukungan Pemerintah Kota Solo
Pemerintah Kota Solo memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan Sensus Ekonomi yang hanya dilakukan sekali dalam sepuluh tahun ini. Dukungan tersebut disampaikan oleh Aryo Widyandoko selaku Staf Ahli Wali Kota Bidang Pemerintahan, Politik, dan Hukum Kota Solo.
Aryo menekankan bahwa keakuratan data statistik merupakan fondasi utama dalam proses pengambilan kebijakan pemerintah. Tanpa data yang valid, program pembangunan yang direncanakan oleh pemerintah daerah sulit untuk mencapai sasaran yang tepat.
Beliau juga menyadari bahwa tantangan yang dihadapi petugas di lapangan tidaklah mudah. Petugas sering kali bertemu dengan responden yang memberikan jawaban berbelit-belit atau bahkan memberikan data yang tidak sesuai dengan fakta sebenarnya.
Ke depannya, Aryo mendorong adanya penguatan kolaborasi statistik sektoral antara BPS dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemkot Solo. Kerja sama ini diharapkan dapat memberikan perspektif yang lebih tajam dalam memantau pertumbuhan ekonomi kota.
Potensi kolaborasi statistik sektoral antara BPS dan OPD Pemkot Solo:
- Analisis Dampak Event: Mengukur pengaruh ekonomi dari acara besar yang diselenggarakan di Solo terhadap pendapatan masyarakat.
- Second Opinion Kebijakan: Menyediakan data pembanding yang kredibel sebelum wali kota mengambil keputusan strategis.
- Monitoring Pertumbuhan: Memantau perkembangan sektor usaha secara lebih detail di tingkat kecamatan atau kelurahan.
Pihak Pemkot menyarankan agar dinas terkait seperti Diskominfo bisa bekerja sama dengan BPS dalam pengolahan data. Hal ini dinilai sangat bermanfaat untuk mengukur efektivitas setiap kegiatan yang mendatangkan banyak wisatawan ke Kota Solo.
Sensus Ekonomi 2026 ini diharapkan mampu memotret potensi ekonomi digital secara lebih komprehensif. Mengingat transformasi digital yang kian masif, BPS Solo menargetkan pendataan yang lebih modern guna menghadapi tantangan ekonomi masa depan.
| Kategori Informasi | Detail Pelaksanaan |
|---|---|
| Instansi Penyelenggara | Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Solo |
| Jumlah Petugas | 362 Orang Terlatih |
| Jadwal Pendataan | 15 Juni - Agustus 2026 |
| Siklus Kegiatan | Setiap 10 Tahun Sekali |
| Fokus Pendataan | Sektor Ekonomi dan Potensi Digital |
Tabel di atas merangkum rincian utama mengenai pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 di wilayah Solo. Persiapan matang melalui pelatihan ini diharapkan dapat meminimalisir kesalahan data selama proses sensus berlangsung selama kurang lebih dua bulan ke depan.