Kesalahpahaman mengenai bentuk bangunan Masjid Al Aqsa di Yerusalem masih sering terjadi di kalangan masyarakat luas. Banyak orang mengira bangunan berkubah emas yang ikonik adalah Masjid Al Aqsa, padahal struktur tersebut merupakan Dome of the Rock atau Kubah Batu.
Dilansir dari Kompas, kekeliruan ini kerap dipicu oleh penggunaan foto Dome of the Rock dalam berbagai pemberitaan atau pembahasan mengenai Masjid Al Aqsa. Hal ini dikarenakan tampilan visual kubah emasnya yang sangat mencolok dan mudah dikenali.
Padahal, bangunan asli Masjid Al Aqsa memiliki ciri khas berupa kubah berwarna abu-abu gelap. Letak bangunan masjid ini berada di bagian selatan kompleks suci al-Haram al-Sharif, berjarak dari lokasi Dome of the Rock.
Meskipun memiliki struktur bangunan dan fungsi yang berbeda, keduanya tetap berada dalam satu kawasan yang sama. Kondisi geografis inilah yang membuat istilah Masjid Al Aqsa sering digunakan untuk merujuk pada seluruh area kompleks suci tersebut.
Penggunaan nama Masjid Al Aqsa untuk menyebut totalitas kompleks al-Haram al-Sharif secara otomatis mencakup keberadaan Dome of the Rock di dalamnya. Namun secara spesifik, kedua bangunan tersebut memiliki makna sejarah yang berlainan bagi umat Islam.
Fungsi dan Makna Religius
Dome of the Rock bukanlah tempat utama untuk melaksanakan salat berjamaah secara reguler. Bangunan ini didirikan sebagai monumen untuk menaungi sebuah batu besar yang diyakini menjadi titik awal peristiwa Mi'raj Nabi Muhammad SAW.
Umat Islam meyakini bahwa dari batu besar itulah Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan naik ke langit untuk bertemu Allah SWT. Sementara itu, Masjid Al Aqsa dipandang sebagai lokasi tibanya Nabi Muhammad SAW setelah menempuh perjalanan Isra dari Mekkah.
Sejarah dan Arsitektur Ikonik
Pembangunan Dome of the Rock dilakukan pada akhir abad ke-7 Masehi di bawah perintah Khalifah Abd al-Malik ibn Marwan dari Dinasti Umayyah. Monumen ini tercatat sebagai struktur Islam tertua yang masih berdiri kokoh hingga masa sekarang.
Berdasarkan prasasti yang ditemukan, proses pembangunannya rampung sekitar tahun 691ÔÇô692 Masehi atau tahun 72 Hijriah. Dari sisi visual, bangunan ini berbentuk segi delapan dengan kubah besar berlapis emas yang memiliki diameter sekitar 20 meter.
Struktur bangunannya ditopang oleh pilar dan kolom yang dihiasi ornamen khas, serta dekorasi marmer, mosaik, dan kaligrafi Arab yang rumit. Meski mendapat pengaruh kuat dari arsitektur Bizantium, Dome of the Rock menjadi penanda awal lahirnya seni arsitektur Islam yang unik.
Berbeda dengan tradisi Bizantium saat itu, mosaik pada Dome of the Rock sama sekali tidak menampilkan figur manusia atau hewan. Hiasannya lebih didominasi oleh pola tumbuh-tumbuhan, bentuk mahkota, perhiasan, serta rangkaian ayat-ayat Al Quran.